MEMAKMURKAN MASJID

الحمد لله حمدا كثيرا يوافي نعمه و يكافئ مزيده نحمده و نستعينه و نستغفره أشهد أن لا إله الا الله و أشهد أن محمد عبده و رسوله اللهم صل على محمد و على آل محمد وعلى أصحابه و أتباعه إلى يوم القيامة . أما بعد :

Segala puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati kaum muslimin untuk berlomba-lomba membangun masjid-masjid di banyak daerah. Namun, seringkali kita dapati bahwa masjid-masjid tersebut lama kelamaan ditinggalkan oleh kaum muslimin. Surat ini ditulis untuk mengajak kaum muslimin mengkaji kembali fungsi masjid dan cara memakmurkannya berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

  1. Siapakah Yang Wajib/Harus Memakmurkan Masjid Dan Bagaimanakah Sifat Takmir Masjid itu?

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ (17) إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (18) أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (19) الَّذِينَ آَمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (20) التوبة (9)

  1. Tidaklah orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.
  2. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
  3. Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
  4. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

 

Penjelasan:

Allah menegaskan bahwa orang kafir itu tidak bisa dan tidak berhak memakmurkan masjid. Ayat ini turun berkaitan dengan orang kafir Mekah yang merasa telah berjasa memakmurkan Masjidil Haram rumah Allah karena mereka telah mengurusnya dan menjamu orang-orang yang mengunjunginya untuk melaksanakan haji dan umrah. Allah menyangkal/membantah kalau mereka telah memakmurkan Ka’bah , karena meskipun ramai dikunjungi orang, tiada seorang pun dari mereka yang mengesakan Allah. Mereka semua sama menyekutukan Allah dengan berhala-berhala mereka. Jerih payah mereka dalam mengurus Ka’bah dan menjamu orang-orang yang mengunjunginya untuk melaksanakan haji dan umrah itu sia-sia tiada mendapatkan pahala.

Orang yang bisa memakmurkan masjid Allah itu hanyalah orang yang beriman, menegakkan shalat jamaah, membayar zakat, banyak bershadaqah, takut dan bertakwa kepada Allah. Jadi, orang yang harus memakmurkan masjid adalah semua orang beriman, bukan cuma takmirnya saja tetapi para jemaahnya juga wajib memakmurkan masjid. Juga berarti bahwa pengurus masjid harus beriman, menegakkan shalat jamaah, membayar zakat, banyak bershadaqah, takut dan bertakwa kepada Allah. Dalam memakmurkan masjid itu diperlukan pengorbanan materi, waktu, dan pemikiran. Oleh karena itu, orang yang ingin memakmurkan masjid harus bersedia untuk berjihad dan berjuang mendakwahkan agama Allah yaitu Al-Islam. Tanpa adanya jihad, dakwah, dan iman, usaha memakmurkan masjid tidak akan membawa hasil, baik di dunia maupun di akhirat. Masjid akan ditinggalkan oleh para jemaahnya. Oleh karena itu, pengurus masjid juga harus selalu memprogram pengembangan ilmu agama untuk diri dan jamaah serta memprogram kegiatan amal shalih/kerja bakti untuk diri sendiri dan juga jamaah.

 

  1. Bagaimanakah kedudukan orang yang menghalangi usaha untuk memakmurkan masjid?

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (114) البقرة (2)

  1. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. S. Al-Baqarah (2)

Asbabun nuzul: Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Romawi dan Nashara yang merobohkan Baitul Maqdis dan menghalang-halangi Bani Israil dari menjalankan ibadah di sana sampai zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ayat ini juga turun berkenaan dengan orang-orang Musyrik Mekah yang menghalangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari menjalankan haji di Masjidil Haram.

Penjelasan ayat:

Allah bertanya siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Pertanyaan tidaklah membutuhkan jawaban. Pertanyaan semacam ini dalam bahasa Arab disebut sebagai istifham inkari (pertanyaan untuk mengingkari). Artinya tidak ada orang yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya. Allah menegaskan di sini orang yang menghalangi kaum muslimin dari berdzikir, menyebut dan mengingat Allah serta menghalangi majlis-majlis ta’lim yang mengingatkan manusia akan kewajiban-kewajiban mereka kepada Allah adalah orang yang paling aniaya. Orang yang menghalangi ibadah dan ta’lim di masjid diancam oleh Allah akan mendapatkan kehinaan di dunia dan siksa yang kekal dan berat di akhirat.

Pada ayat ini, kita dapatkan juga bahwa orang kafir itu tidak boleh masuk masjid kecuali dengan izin dan pengawasan kaum muslimin sehingga mereka merasa ketakutan. Orang kafir boleh masuk ke masjid agar mereka mendengarkan ayat-ayat Allah dibacakan dan diterangkan oleh para ulama pewaris Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga mereka terbuka hatinya untuk mendapatkan petunjuk. Atau mereka terbuka hatinya ketika melihat kaum muslimin beribadah kepada Allah.

Pada ayat ini, kita dapatkan juga bahwa orang yang masuk masjid itu harus dalam keadaan takut dan bertakwa kepada Allah.

  1. Siapakah Pemilik Masjid itu?

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا (18) الجن (72)

  1. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. S. Al-Jin (72)

Penjelasan ayat:

Allah menegaskan bahwa masjid itu milik Allah. Allahlah yang berhak mengatur penggunaannya. Seorang pengurus masjid harus mengatur penggunaan masjid sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah. Masjid itu biasanya berasal dari harta wakaf seseorang. Harta wakaf itu tidak bisa diwaris, dihadiahkan ataupun dijual sebagaimana hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُبْتَاعُ وَلَا يُورَثُ وَلَا يُوهَبُ قَالَ فَتَصَدَّقَ عُمَرُ فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ

(Dari Ibnu Umar dia berkata, “Umar mendapatkan bagian tanah perkebunan di Khaibar, lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta saran mengenai bagian tersebut, dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapat bagian tanah perkebunan di Khaibar, dan saya belum pernah mendapatkan harta yang sangat saya banggakan seperti kebun itu, maka apa yang anda perintahkan mengenai kebun tersebut?” beliau menjawab: “Jika kamu mau, peliharalah pohonnya dan sedekahkanlah hasilnya.” Ibnu Umar berkata, “Kemudian Umar mensedekahkannya, tidak dijual pohonnya dan hasilnya, tidak diwariskan dan tidak dihibahkan.” Ibnu Umar melanjutkan, “Umar menyedekahkan hasilnya kepada orang-orang fakir, karib kerabat, pemerdekaan budak, dana perjuangan di jalan Allah, untuk pejuang-pejuang dan untuk menjamu tamu. Dan dia juga membolehkan orang lain untuk mengolah kebun tersebut dan memakan dari hasil tanamannya dengan sepantasnya, atau memberi makan temannya dengan tidak menyimpannya.) Bukhari (Kitab Al-Wasaya, bab Al-Waqfu Kaifa Yuktabu (Penulisan Wakaf), Hadits no. 2565) dan Muslim (Kitab Al-Washiyyah, bab Al-Waqfu, Hadits no. 3085) Lihat juga Bulughul Maram, Kitabul Buyu’ (Jual Beli), bab Wakaf, hadits no. 2/952.

Dari hadits di atas didapatkan bahwa harta wakaf itu merupakan hak kaum muslimin. Mereka semua berhak menggunakannya, begitupula dengan masjid. Jika harta wakaf itu diperlukan orang yang mengurusinya maka ia diperbolehkan untuk memanfaatkannya dengan sewajarnya tetapi tidak boleh memilikinya.

Dalam surat Al-Jin ayat 18 ini, Allah juga melarang manusia menyekutukanNya di masjid-masjid. Oleh karena itu, orang kafir tidak diperbolehkan masuk ke masjid untuk berdoa dan beribadah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat Yahudi karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.”

Maksudnya, Allah melaknat orang-orang Yahudi yang membangun masjid di atas kuburan nabi-nabi mereka. Mereka beribadah di depan kuburan nabi-nabi mereka.Mereka menjadikan nabi-nabi mereka perantara dalam beribadah kepada Allah. Perbuatan semacam ini tergolong perbuatan syirik. Begitu pula hukumnya bertawasul dengan para ulama/wali. Itu lebih buruk lagi.

  1. Fungsi Masjid dan Cara Memakmurkannya

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (125) البقرة (2)

  1. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[89] tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” S. Al-Baqarah (2)

Penjelasan Ayat:

Allah menjadikan Ka’bah/Masjidil Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan juga tempat yang aman. Setiap tahun umat muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di sana untuk melaksanakan ibadah haji. Begitu pula masjid-masjid yang lain, sebagaimana masjid Nabawi adalah tempat berkumpulnya kaum muslimin bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam melaksanakan ibadah seperti: shalat berjamaah dan ta’lim mendengarkan nasihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan juga untuk kegiatan sosial: seperti mobilisasi jihad dan dakwah, pembagian zakat, menerima tamu, dll. Bahkan, masjid Nabawi adalah rumah dan tempat menginap sebagian sahabat yang tidak memiliki rumah dan keluarga yang dikenal dengan Ashabus Suffah (penghuni serambi masjid Nabi shallallahu alaihi wa sallam ). Dengan demikian, salah satu bentuk dari memakmurkan masjid adalah dengan menjadikannya sebagai tempat berkumpul baik untuk ibadah maupun kegiatan kemasyarakatan.

Allah juga memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimas salam untuk mensucikan Ka’bah dari syirik dan maksiat dan juga dari kotoran. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga melarang kaum musyrik dari menjalankan ibadah haji di Baitullah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga memerintahkan orang untuk membersihkan masjid Nabawi dan beliau sangat marah ketika melihat masjid itu kotor. Ini merupakan salah satu bentuk memakmurkan masjid. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat memperhatikan orang-orang yang mau membersihkan masjid sampai-sampai Nabi marah ketika tidak diberitahu bahwa orang yang biasa membersihkan masjid itu meninggal. Beliau langsung minta diantarkan ke kuburannya dan menshalatkannya. Jika masjid itu terjaga kebersihannya, orang yang masuk ke dalamnya akan merasa lebih nyaman. Maka membersihkan masjid itu merupakan salah satu usaha untuk memakmurkan masjid tak diragukan lagi.

Allah juga menegaskan bahwa masjid itu diperuntukkan untuk orang yang shalat, thawaf (khusus di masjidil haram), dan juga I’tikaf. Dengan demikian, barang siapa yang melakukan shalat berjamaah dan beri’tikaf di masjid berarti ia telah turut memakmurkan masjid.

Cara Memakmurkan Masjid:

  1. Mengadakan kegiatan bersama di masjid, baik kegiatan ibadah, ta’lim, dan juga muamalah (rapat, musyawarah, amal shalih, dan kegiatan kemasyrakatan lainnya.)
  2. Shalat berjamaah.
  3. I’tikaf (Disadur dari kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, Maktabah Syamilah)

I’tikaf artinya Menetap dan berdiam di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

I’tikaf ada yang wajib, ada yang sunah muakkad, dan ada yang sunnah/mustahab (disukai).

I’tikaf menjadi wajib apabila seseorang bernadzar untuk beri’tikaf. Terutama bernadzar untuk beri’tikaf di Masjid Al-Aqsha, Masjid Nabawi, atau Masjidil Haram. I’tikaf menjadi sunnah muakkad pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan. Dan I’tikaf hukumnya sunnah pada hari-hari di luar bulan Ramadlan.

Rukun I’tikaf yaitu berniat untuk berdiam di masjid untuk beribadah. Tidak ada batas waktu minimal yang disyaratkan dalam i’tikaf, kecuali i’tikaf yang wajib (’tikaf karena nadzar/janji) harus dilaksanakan selama jangka waktu yang telah dinadzarkan.

Amalan-amalan yang disukai dalam I’tikaf: shalat sunah, membaca Al-Quran, berdzikir, belajar Al-Quran, hadits, serta sirah Nabi dan para sahabat dan amalan-amalan lainnya yang mendekatkan diri kepada Allah.

Amalan yang dibenci dalam I’tikaf: menyibukkan diri dengan hal yang tidak bermanfaat atau malah tidak mau berbicara sama sekali dan tidak peduli dengan muslimin dan keadaan sekitarnya dan beranggapan bahwa semua itu mendekatkan diri kepada Allah.


 

I’tikaf setelah Shubuh

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang shalat subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit yang dilanjutkan dengan shalat dua raka’at, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.” Dia (Anas radliallahu ‘anhu) berkata, Rasulullah bersabda: “Sempurna, sempurna, sempurna.”

Derajat Hadits: Hasan karena adanya hadits lain yang menguatkannya. Dihasankan oleh At-Turmudzi dan Al-Albani.

Penjelasan Hadits:

Barangsiapa yang berdiam di masjid untuk beribadah kepada Allah setelah melaksanakan shalat Shubuh sampai matahari terbit kemudian melaksanakan shalat dluha 2 rekaat maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya Haji dan Umroh. Pahala haji dan umroh adalah diampunkan dosanya setahun yang akan datang dana masuk surga. Sebagian ulama menamai shalat tersebut dengan shalat Isyraq (shalat di saat matahari terbit). Agar tidak melanggar larangan Rasul untuk shalat di saat matahari terbit, ulama mengajarkan untuk mengakhirkan shalat dluha ini 10-15 menit setelah waktu terbit matahari atau setelah matahari setinggi tombak. I’tikaf dan shalat ini tidak menggugurkan kewajiban haji bagi yang mampu.

Pahala I’tikaf ba’da shalat Shubuh sampai shalat Dluha adalah masuk surga dan diampunkan dosa selama satu tahun yang akan datang.

I’tikaf menunggu shalat

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “… Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti palaksanaan shalat.” Shahihul Bukhari, Kitab Al-Adzan, bab Fadhli shalatil Jamaah (Keutamaan Shalat Berjamaah), hadits no. 611 Penjelasan hadits:Orang yang melaksanakan shalat kemudian berdiam di masjid (I’tikaf) didoakan dan dimintakan ampunan dan rahmat oleh para malaikat sampai ia meninggalkan masjid. Barangsiapa yang shalat kemudian berdiam di masjid (I’tikaf) menunggu waktu shalat berikutnya maka ia mendapatkan pahala seolah-olah dia terus menerus melaksanakan shalat selama itu.Pahala I’tikaf di antara dua waktu shalat adalah dimintakan ampunan dan rahmat oleh para malaikat dan mendapatkan pahala seolah-olah dia terus menerus melaksanakan shalat selama itu.

Orang yang suka tinggal/I’tikaf di masjid

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ … الحديث

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; …, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, …dst . Shahihul Bukhari, Kitab Al-Adzan, bab Man Jalasa fil Masjidi … dst (Orang yang berdiam di masjid menunggu shalat … dst), hadits no. 620 dan Shahih Muslim kitab Az-Zakat, bab Fadhli Ikhfaish Shadaqah (Keutamaan Menyembunyikan Sedekah), hadits no. 1712Penjelasan hadits:Allah menjanjikan kepada tujuh golongan manusia akan diberi naungan nanti di padang mahsyar pada hari Penghitungan Amal, di saat golongan manusia yang lain merasakan panas terik matahari yang membakar. Di antara ketujuh golongan tersebut adalah orang-orang yang hati mereka tergantung di masjid.

Dalam Fathul Bari (Kitab Al-Adzan, bab Man Jalasa fil Masjidi … dst (Orang yang berdiam di masjid menunggu shalat … dst), hadits no. 620), Ibnu Hajar menjelaskan: Maksud orang yang hatinya tergantung di masjid itu adalah orang yang sangat mencintai masjid sehingga ia selalu merindukan masjid dan sulit untuk meninggalkannya lama-lama sehingga ia akan sering mengunjunginya. Kalaupun ia terhalang dari pergi ke masjid ia akan merindukannya.

Pahala orang yang suka memperbanyak I’tikaf adalah mendapatkan naungan di hari kiamat di padang mahsyar.

  1. Menjaga kebersihannya.

 

  1. Hadits Tentang Perintah untuk Menjaga Kesucian Masjid dan Fungsi Masjid

429 – حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَهُوَ عَمُّ إِسْحَقَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَامَ يَبُولُ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ مَهْ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَرَ رَجُلًا مِنْ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Abu Thalhah telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik -yaitu pamannya Ishaq- dia berkata, “Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seorang Badui yang kemudian berdiri dan kencing di masjid. Maka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Cukup, cukup’.” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda: “Janganlah kalian menghentikan kencingnya, biarkanlah dia hingga dia selesai kencing.” Kemudian Rasulullah memanggilnya seraya berkata kepadanya: “Sesungguhnya masjid ini tidak layak dari kencing ini dan tidak pula kotoran tersebut. Ia hanya untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al-Qur’an, ” atau sebagaimana yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Anas melanjutkan ucapannya, “Lalu beliau memerintahkan seorang laki-laki dari para sahabat (mengambil air), lalu dia membawa air satu ember dan mengguyurnya.” Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah, bab. Wujubu Guslil bauli … dst (Wajibnya Mecuci bekas kencing … dst) hadits no. 429

Penjelasan Hadits:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita agar menjaga kesucian masjid karena shalat seseorang itu akan batal/tidak sah jika dilaksanakan di tempat yang najis. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa masjid berfungsi sebagai tempat untuk berdzikir, salat, dan membaca Al-Quran. Dengan demikian, barang siapa yang menjaga kesucian dan melaksanakan shalat, berdzikir, dan membaca Al-Quran di masjid tergolong sebagai orang-orang yang memakmurkan masjid.

Pengertian Hadits:

  1. Masjid harus dijaga kesuciannya.
  2. Masjid berfungsi sebagai tempat untuk berdzikir, salat, dan membaca Al-Quran.

Cara Memakmurkan Masjid:

  1. Menjaga Kebersihan Masjid.
  2. Shalat Berjamaah.
  3. Tadarus di bulan Ramadlan dan di luar bulan Ramadlan.
  4. Hukum-Hukum Seputar Masjid (Disadur dari kitab Syarhun Nawawi ala Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah, bab. Wujubu Guslil bauli … dst (Wajibnya Mecuci bekas kencing … dst) hadits no. 429
  5. Muslimin sepakat bahwa duduk di masjid untuk ibadah, misalnya I’tikaf, ta’lim, membaca kitab agama, mendengarkan nasihat, menunggu shalat, dan lain-lain itu hukumnya mustahab/sunah, meskipun dalam keadaan berhadats (bukan najis).
  6. Muslimin juga sepakat bahwa duduk di masjid untuk selain ibadah hukumnya mubah/boleh, meskipun dalam keadaan berhadats (bukan najis).
  7. Tidur di dalam masjid hukumnya mubah/boleh. Banyak hadits-hadits yang Shahih yang menjelaskan bahwasanya para sahabat, di antaranya: Ali bin Abi Thalib, Ashabush Shuffah (para sahabat yang biasa tinggal di serambi masjid Nabawi), Tsumamah bin Utsal, Shafwan bin Umayah, Saad bin Muadz juga pernah tidur di masjid.
  8. Hadits Tentang Keutamaan Menyapu/Membersihkan Masjid

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ فَقَالُوا مَاتَ قَالَ أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ فَقَالَ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا

Dari Abu Hurairah bahwa seorang wanita berkulit hitam atau seorang pemuda biasanya menyapu Masjid. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kehilangan orang itu, sehingga beliau pun menanyakannya. Para sahabat menjawab, “Orang itu telah meninggal.” Beliau bersabda: “Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Sepertinya mereka menganggap remeh urusan kematiannya. Beliau pun bersabda: “Tunjukkanlah kepadaku di mana letak kuburannya.” Maka para sahabat pun menunjukkan kuburannya, dan akhirnya beliau menshalatkannya. Shahih Bukhari, kitab Ash-Shalat, bab kansul masjid … dst (bab menyapu masjid) hadits no. 438 dan Shahih Muslim, kitab Al-Janaiz, bab Ash-Shalatu alal qabri (bab shalat di tempat pemakaman) hadits no. 1588

Penjelasan Hadits:

Ada seorang pemuda/wanita yang biasa menyapu masjid. Ketika ia tidak kelihatan batang hidungnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menanyakan keberadaannya. Hal ini, menunjukkan kepedulian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Ketika diberitahu bahwa ia meninggal serta sudah dishalatkan dan dikuburkan tanpa sepengatahuan beliau, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingkari mereka yang menganggap remeh kematiannya. Perhatikanlah wahai para saudara, bagaimana beliau sangat menghargai seorang muslim dan orang yang biasa beramal shalih membersihkan masjid.

Pengertian Hadits

  1. Rasulullah sangat memperhatikan dan mempedulikan kepada jemaah. Jika tidak terlihat batang hidungnya beliau menanyakannya.
  2. Hasungan bagi Ta’mir masjid untuk memperhatikan jemaah.
  3. Amal shalih itu tidak ada yang remeh meskipun dianggap remeh di mata manusia.
  4. Keutamaan membersihkan dan menjaga kebersihan masjid.
  5. Membersihkan masjid itu pahalanya besar di hadapan Allah.
  6. Terkadang Allah merahasiakan seberapa besar pahala suatu amalan sehingga manusia menganggapnya remeh.
  7. Pahala yang Allah rahasiakan itu sangat besar.

 

و الله أعلم بالصواب و الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s