TAFSIR FIQHY, DEFINISI DAN SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGANNYA

Tafsir Fiqhi adalah corak tafsir yang pembahasannya berorientasi kepada permasalahan Fiqh (Hukum Islam).

A. Tafsir Fiqhiy dari masa Nabi hingga berdirinya madzhab-madzhab ahli fiqh

Penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan fiqhi atau hukum sebenarya telah dimulai sejak masa turunnya wahyu Allah kepada Rasulullah Saw, sebab  secara umum ayat-ayat dalam al-Qur’an mengandung hukum-hukum yang berkenaan dengan kemaslahatan umat baik di dunia maupun di akhirat, oleh karena itu para sahabat dimasa kehidupan Rasulullah Saw dapat memahami ayat-ayat yang bernuansa hukum tersebut berdasarkan pemahaman mereka terhadap bahasa Arab, adapun ayat-ayat yang menyulitkan mereka dalam memahami maksud dan tujuannya, maka dengan segera mereka menanyakannya kepada Rasulullah Saw[1]

. Diantara contoh kasus tentang ayat-ayat hukum adalah sebab turunnya (sabab nuzul) ayat tentang pengharaman khamar dimana Imam asy-Syaukany –rahimahullah– menyebutkan dalam tafsirnya Fath al-Qadir:

Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, ‘Abd bin Humaid, Abu Daud, at-Tirmidzy, an-Nas’i, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan al-Hakim, dari Hadis Umar bin al-Khaththab beliau berkata: “Demi Allah ! jelaskanlah kemada kami perihal hukum khamar, kerena benda tersebut dapat menyia-nyiakan harta dan menghilangkan akal?, maka turunlah firman Allah dalam Q.S al-Baqarah : 219″.

Dalam riwayat lain dari hadis Anas beliau berkata : “Dahulu kami meminum khamar, kemudian turunlah pada saat itu QS. Al-Baqarah : 219, lalu kami berkata : ‘kami hanya meminum khamar yang memberikan manfaat kepada kami’, maka turunlah QS. Al-Maidah: 90, lalu kami berkata: “Ya Allah sesungguhnya kami telah berhenti dari meminum khamar tersebut”[2]

Dari contoh kasus di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah dan para sahabat memahami maksud dan tujuan teks-teks Qur’aniyyah –utamanya yang mengandung pemahaman hukum kausalitas dan kemanusiaan- melalui wahyu baik wahyu tersebut adalah wahyu yang bersifat lafzhan wa ma’nan min Allah (al-Qur’an) atau wahyu yang bersifat Ma’anan min Allah wa lafzdhan min ar-Rasul (as-Sunnah).

Meskipun demikian perbedaan para sahabat dalam memahami ayat-ayat hukum kadang-kadang mereka sepakat dan kadang-kadang berbeda di dalam satu masalah ,seperti yang terjadi antara Umar bin Khothob dan Ali bin Abi Tholib di dalam perkara – ‘iddah seorang perempuan hamil yang suaminya meninggal- Umar metapkan sapai melahirkan,sedangkan Ali menetapkan bahwa ‘iddahnyaadalah yang paling lama diantara dua waktu( melahirkan dan lewat 4 bulan 10 hari ).Sebab perbedaan ini karena adanya dua nash yang berhadapan dimana Alloh menjadikan ‘ddah bagi perempuan hamil sampai melahirkan (at-Tholaq:4) dan ‘iddah perempuan yang ditinggal mati suami 4 bulan 10 hari (al-Baqoroh:234 ) tanpa penjelasan yang rinci(tafsil) .Makaa Ali beramal dengan kedua ayat sekaligus ,padahal masing-masing ayat tersebut sebagai takhsis           bagi yang lain ,sedangkan Umar berpendapat bahwa ayat tholaq sebagai takhsis terhadap ayat perempuan yang ditingal mati suaminya. Pendapat Umar ini dikuatkansebuah riwayat: bahwasanya Subai’ah binti al Harits suaminya meninggal lalu ia melahirkan setelah 25 hari maka Rasululloh menbolehkan untuk menikah . Contoh kasus yang lainnya tentang; berapakah harta waris yang didapatkan oleh suami, ayah, dan ibu yang ditinggalkan? Ibnu Abbas menfatwakan bahwa suami mendapat 1/2, Ibu mendapat 1/3, dan ayah mendapat ‘Ashabah (sisa harta yang telah terbagi sebelumnya) berdasarkan QS. An-Nisa’: 11. Disisi lain Zaid bin Tsabit dan sahabat lainnya memandang bahwa Istri yang ditinggalkan mendapat 1/3 dari sisa harta milik suami, hal ini dipandang karena ayah dan ibu keduanya adalah lelaki dan wanita dan keduanya mendaptkan harta waris dalam satu bentuk yaitu 1:2 (1 untuk wanita dan 2 untuk lelaki).[3] Namun dengan demikian masing-masing berusaha untuk tetap pada kebenaran tanpa harus memaksakan sebuah ayat untuk dijadikan sebagai dalil dalam pendapatnya, dan jika salah satu diantar dua orang sahabat menemukan bahwa hasil kesimpulan hukum yang difahami oleh sahabat lainnya lebih baik dan lebih mendekati kebenaran, maka mereka tidak segan-segan dan tanpa rasa gengsi untuk menerima pendapat sahabat yang berbeda dengannya.

B.Tafsir Fiqhiy pada awal berdirinya Madzhab-madzhabahli Fiqih

Terjadinya perbedaan pendapat dalam menetapkan hukum suatu permasalahan terus berlangsung hingga masa generasi fuqaha’ al-mazahib (ahli fiqhi mazhab), namun perbedaan yang terjadi dikalangan para fuqha’ tersebut disebabkan karena munculnya berbagai macam persoalan hidup baik individu maupun sosial dikalangan kaum muslimin, dimana persoalan-persoalan tersebut belum terjadi sebelumnya dan bahkan belum ditemukan garis hukum yang berkenaan dengan beberapa masalah, oleh karena itu para fuqaha’( seperti Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad Bin Hanbal  dan selain mereka) ,berusaha semaksimal mungkin untuk menggali seluruh kandungan hukum yang terdapat dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan landasan-landasan syari’at lainnya kemudian menterjemahkannya dan mentafsirkannya sesuai dengan konteks sosial yang mereka hadapi pada masa itu, sehingga terkadang kita menemukan kesepatan tentang hukum suatu permasalahan dan terkadang pula kita temukan terjadinya perbedaan. Namun perbedaan ini terjadi lebih disebabkan karena perbedaan pandangan masing-masing Imam dalam memahami sutu dalil, meskipun demikian tidak tampak dari mereka terjdinya sikap ta’ashub al-madzhaby akan tetapi mereka berusaha untuk mencari kebenaran hukum dari suatu permasalahan dengan berlandas pada kebenaran dalil, dan bahkan jika salah seorang diantara mereka mendaptkan bahwa pendapat saudaranya lebih tepat dan lebih sesuai dengan al-Qur’an dari pendapatnya, maka dia tidak sungkan untuk menerima dan mengamalkan pendapat saudaranya dan meninggalkan pendapatnya hal ini tergambarkan dalam perkataan mereka masing-masing seperti perkataan Imam Asy-Syafi’i: “Jika sebuah hadis itu shahih, maka itulah mazhabku”, beliau juga pernah berkata kepada muridnya Ahmad bin Hanbal semasa di Baghdad : “Jika sebuah hadis shahih dalam pandanganmu, maka ajarkanlah kepadaku ,[4] demikianlah sikap para fuqaha terhadap perbedaan pemahaman dan persepsi dalam mengambil dan mengistinbath sutu hukum dari al-Qur’an.

C.Tafsir Fiqhiy setelah munculnya para pengikut dan fanatik madzhab

Setelah terputusnya masa para aimmah al-madzahib, dan munculnya masa taqlid dimana hukum yang diperpegangi pada masa ini merupakan produk hukum hasil olah fikir para fuqaha’ terdahulu, maka nampaklah perbedaan tata cara ibadah dan muamalah pada masing-masing muqallid bahkan tidak sedikit diantara mereka menjadi kelompok yang fanatik terhadap satu madzhab tertentu sehingga mereka menafsirkan al-Qur’an berdasarkan pemahaman madzhab yang mereka yakini kebenarannya dan bahkan cenderung berusaha untuk membenarkan bentuk penafsiran imam madzhab yang menjadi panutan dan anutan mereka dalam menjalankan hukum syari’at serta menjatuhkan dan menafikan pemahaman madzhab yang tidak sejalan dengan madzhab mereka.

Sikap seperti ini pun terjadi dalam melakukan penafsiran terhadap al-Qur’an utamanya yang berhubungan dengan ayat-ayat hukum. Dapat kita temukan bahwa penafsir dari kalangan al-muqallid al-madzhaby berusaha untuk menafsirkan al-Qur’an dan memahaminya dengan berusaha untuk tidak menyalahi pendapat imam madzhab panutannya, atau jika harus berseberangan, maka ia berusaha untuk tidak membela madzhab yang tidak sejalan dengan panutannya, atau berusaha untuk masuk dalam wilayah at-Tansikh dan at-Takhshish.[5]

Dari sinilah muncul kebinekaan dan keragaman tafsir fiqhi sehingga kita dapat menemukan tafsir-tafsir al-Qur’an yang sesuai dengan madzhab Hanafy, Maliky, Syafi’y, dan sebagainya.

[1] At Tafsir wal Mufassirun Adzahabi juz II hal 319

7Fat al Qodir juz I hal296 Maktabah as Samilah

[3] At-Tafsi wa al-Mufassirun Adzahabi hal 319-320

[4] At-Tafsir wa al Mufassirun Adzahabiy hal320

[5] At-Tafsir wa al Mufassirun Adzahabiy hal 321

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Tafsir dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s