Metode-Metode Tafsir Maqarin

Dalam tafsir maqarin ada tiga aspek yang dikaji oleh seorang mufassir, yaitu:

Perbandingan ayat dengan ayat

Ayat-ayat yang dibandingkan adalah:

  • ayat-ayat yang memiliki kesamaan redaksi, namun memiliki variasi dalam pemakaian mufradat, urutan kata, sampai ada yang berkurang dan ada juga yang berlebih.

Contohnya:

قل يا ايها الكافرون (١) لا اعبد ما تعبدون (٢) ولا انتم عابدون ما اعبد (٣) ولا انا عابد ما عبدتم (٤)ولا انتم عابدون ما اعبد (5)

Artinya: 1. Katakanlah hai orang-orang kafir. 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. 3. Dan kamu bukan penyembah tuhan yang aku sembah. 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. 5. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah tuhan yang aku sembah. (Q.S. Al-Kafirun: 1-5).

Jika dibandingkan antara redaksi ayat-ayat di atas, maka nampak dengan jelas, ayat ke-2 dan ke-4 mempunyai redaksi yang berbeda tapi mempunyai maksud yang sama. Yaitu larangan untuk bertoleransi dalam berakidah serta beribadah bersama-sama dengan orang kafir. Akan tetapi yang membedakan adalah waktu beribadah tersebut. Pada ayat kedua (لا اعبد) memberikan pemahaman bahwa waktu yang ditujukan adalah sekarang ( saat ini, hari ini) Jadi tegasnya: saya tidak akan menyembah yang sedang kamu sembah sekarang. Sedangkan pada ayat keempat (ولا انا عابد) memberikan keterangan bahwa waktu yang ditujukan adalah untuk masa kapan saja (sekarang dan akan datang). Tegasnya: saya tidak akan pernah menyembah apa yang sudah kamu sembah. [1]

  • ayat-ayat yang memiliki perbedaan ungkapan, tetapi tetap dalam satu maksud.

Contohnya

ولا تقتلوا اولادكم من املاق نحن نرزقكم واياهم

Artinya: “janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin, kami yang akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka” (Al-An’am: 151)

ولا تقتلوا اولادكم خشية املاق نحن نرزقهم واياكم

Artinya: “janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin, kami yang akan memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian” (Al-Isra’: 31).

Dua ayat tersebut membahas kasus yang sama, yakni larangan membunuh anak-anak karena alasan kemiskinan, namun redaksinya terlihat berbeda. Perbedaan itu bisa dilihat dari segi mukhatab (objek) nya. redaksi yang digunakan adalah من إملاق yang berarti karena alasan kemiskinan. [2] Bisa disimpulkan dari ungkapan tersebut bahwa mukhatab pada ayat pertama adalah orang miskin Tegasnya, “janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena kamu miskin”. Sementara itu, redaksi yang digunakan adalah خشية إملاق yang berarti karena takut menjadi miskin. [3] Jadi, mukhatab pada ayat kedua adalah orang kaya sehingga tegasnya, “janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena kamu takut menjadi miskin”. Selanjutnya, pada ayat pertama dhamir mukhatab didahulukan dengan maksud untuk menghilangkan kekhawatiran si miskin bahwa ia tidak mampu memberikan nafkan kepada anaknya, sebab Allah akan memberikan rizki kepadanya sebagaimana mereka diberi sendiri diberi rizki. Jadi, kedua ayat itu menumbuhkan optimisme kepada si kaya maupun si miskin bahwa Allahlah pencipta anak-anak mereka, maka Dialah pemelihara dan pemberi rezeki anak-anak mereka, sebagaiaman Ia telah menciptakan dan memberi makan mereka sendiri.

  • Ayat-ayat yang memiliki ungkapan yang sama tetapi membahas kasus yang berbeda

Contohnya:

وماجعله الله الا بشرى ولتطمئن به قلوبكم وما النصر الا من عند الله إن الله عزيز حكيم (الأنفال:10)

وماجعله الله الا بشرى لكم ولتطمئن قلوبكم به وما النصر الا من عند الله العزيز الحكيم (ال عمران : 126)

Dua ayat tersebut redaksinya terlihat mirip, bahkan sama-sama menjelaskan pertolongan Allah kepada kaum muslimin dalam bertempur melawan musuh.

Variasi yang dapat dilihat adalah:

  1. Surat Al Anfal mendahulukan kata bihi dari pada qulubukum
  2. Surat Al Anfal menggunakan kata inna, sedangkan Al Imron tidak
  3. Surat Ali Imron menggunakan kata lakum, sedangkan Al Anfal tidak
  4. Surat Al Anfal berbicara mengenai perang Badar, sedangkan Ali Imron berbicara tentang perang uhud

Variasi keterdahuluan bihi dan penambahan inna dalam ayat Al-Anfal dimaksudkan sebagai penekanan atau penegasan (taukid) kandungan utama ayat tersebut karena ayat tersebut turun pada waktu perang Badar perang besar yang pertama. Adapun ayat Ali Imran turun dalam perang Uhud yang terjadi sesudahnya.

  • Ayat-ayat yang bertentangan

Contohnya:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ . الطور : (52) 15

Dan orang-orang yang beriman yang dikuti oleh anak turunnya dengan keimanan maka Kami pasti akan mempertemukan anak turun mereka dengan mereka.

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى النجم (53) : 39

Tidak ada balasan bagi manusia kecuali dari apa yang ia usahakan.

Ayat yang pertama menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman pasti akan dipertemukan dengan anak turun mereka yang beriman juga bagaimanapun tingkatan amal mereka. Adapun ayat kedua menunjukkan bahwa seseorang itu hanya akan mendapatkan balasan jannah sebatas amalan mereka, tanpa memandang nasab. Jadi, kedua ayat ini seakan bertentangan. Adapun pembahasan para mufassir tentang dua ayat tadi akan penulis bahas pada sub bab berikut ini:

Perbandingan Ayat dengan hadits

Perbandingan penafsiran ini dilakukan terutama terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang pada lahirnya tampak bertentangan dengan hadis-hadis Nabi yang diyakini Shahih. Hadis-hadis yang dinyatakan dhoif tidak perlu dibandingkan dengan Al Qur’an, karena level dan kondisi keduanya tidak seimbang. [4]

Misalnya, dalam penafsiran ayat ke 39 dari surat An-Najm (53):

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسانِ إِلَّا ما سَعى

Artinya: bahwasanya seseorang itu tidak akan menanggung beban orang lain

Dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Quran, Al-Imam Al-Qurthubi memperbandingkan ayat ini dengan beberapa hadits yang dlahirnya bertentangan dengannya, di antaranya: hadits tentang Aisyah yang beri’tikaf dan memerdekakan budak atas nama saudaranya Abdurrahman dan hadits Saad bin Ubadah:

أن سعد بن عبادة قال للنبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إن أمي توفيت أفأتصدق عنها؟ قال: (نعم).

Artinya: Bahwasanya Saad bin Ubadah berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam: Sesungguhnya ibuku telah meninggal apakah aku boleh bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Ya.

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang meninggal mendapatkan pahala dari orang lain. Lalu beliau pun berusaha untuk mengkompromikan keduanya dari dua arah: pertama, lam pada kata lil insan memberikan makna kepemilikan dan hak. Jadi sebenarnya si mayit tidak berhak dan tidak dapat mendapatkan pahala. Adapun pahala dalam kedua hadits tadi adalah bonus dari Allah, sebagaimana Dia memasukkan anak-anak yang mati ketika kecil ke dalam jannah dengan tanpa amalan. Kedua, ayat ke 39 ini hanya untuk orang yang kafir, bukan untuk orang yang beriman. [5]

Perbandingan antar ulama

Seorang mufasir kadang membandingkan penafsiran ulama tafsir lainnya, baik salaf maupun khalaf, dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, baik yang bersifat manqul (al-tafsir al-ma’tsur) maupun yang bersifat ra’yu (al-tafsir al-ra’yi). Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tertentu ditemukan adanya perbedaan di antara ulama tafsir. Perbedaan itu dapat terjadi karena perbedaan hasil ijtihad, latar belakang sejarah, wawasan, dan sudut pandang masing-masing.

Jenis muqaranah ini, berdasarkan coraknya, dibedakan menjadi:

  • Muqaranah tahlili, yaitu membandingkan penafsiran dua orang mufassir atau lebih dalam satu ayat. Metode ini membedah makna tiap kata dan susunannya dan keterangan-keterangan yang berkaitan dari dasar bahasa, hadits, nahwu, bayan, qiraat, dan asbab nuzulnya. [6]

Misalnya, perbandingan penafsiran kata shirath dalam ayat shirathal mustaqim. Dr. Mushthafa Al-Musyani membandingkan antara Ibnu Athiyyah dan Az-Zamakhsyari. [7] Kedua mufassir ini merupakan ahli-ahli bahasa yang berpengalaman pada masa mereka dari dua kubu ahlu sunnah dan mu’tazilah. Keduanya hidup pada satu masa dan meninggal dalam waktu yang berdekatan.

Ibnu Athiyyah memulai pembahasannya dengan menyebutkan makna shirath secara bahasa kemudian menguatkannya dengan menyebutkan sebuah syair. Kemudian beliau menyebutkan variasi qiraah pada lafal itu dan menyandarkannya kepada para qari’nya. Kemudian beliau mulai menyebutkan makna ayat tersebut berdasarkan atsar-atsar dan menutupnya dengan perkataan yang merangkum seluruh makna tersebut.

Adapun Az-Zamakhsyari menafsirkan ayat ini secara ringkas dimulai dengan qiraah kemudian mentarjih qiraah yang paling fasih dan ditutup dengan maknanya.

Dari perbandingan ini didapatkan bahwa Ibnu Athiyyah lebih memperhatikan penafsiran dari segi bahasa dan istidlal dengan syair. Juga lebih besar perhatiannya terhadap qiraah. Ia juga mebedakan mana bacaan yang sahih dan mana yang syadz. Ia juga menyandarkan setiap bacaan kepada para qarinya dan mengedepankan qiraah sab’ah beserta taujih-taujihnya. Kemudian beliau menyebutkan tafsir-tafsir bil ma’tsur dari para sahabat dan tabi’in dan menyebutkan kesimpulan dan rangkumannya sesuai dengan aqidah dan syariah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Adapun Az-Zamakhsyari tidak menyebutkan secara rinci qiraah-qiraahnya dan tidak menyebutkan atsar-atsar yang berkaitan dengannya. Sebabnya – wallahu a’lam – karena dasar aqidah mereka yang berbeda. Ibnu Athiyyah bermadzhab Ahli sunnah sedang Az-Zamakhsyari bermadzhab mu’tazilah.

  • Muqaranah maudlu’i, yaitu perbandingan antara dua mufassir dalam penafsiran suatu ayat dengan satu tema ataupun beberapa ayat yang memiliki kesamaan tema. [8]

Misalnya, perbandingan antara tafsir Az-Zamakhsyari dan Al-Alusi dalam tema “gangguan dan bisikan setan”: [9]

Allah berkata: “Sesungguhnya aku menamainya Maryam dan aku memperlindungkannya dan anak turunnya kepadaMu dari setan yang terkutuk.” Ali Imran : 36. Dalam menafsirkan ayat ini, Az-Zamakhsyari membandingkannya dengan hadits “Tidak ada suatu bayi yang dilahirkan kecuali setan mengganggunya ketika itu. Bayi menangis (pada waktu dilahirkan) karena gangguan setan terhadapnya. Kecuali, Maryam dan anaknya.” Az-Zamakhsyari menyatakan: Allah lebih tahu keshahihan hadits ini. Jika hadits ini benar-benar shahih maka maknanya adalah bahwa sungguh setan itu amat ingin untuk mengganggu setiap bayi kecuali Maryam dan anaknya. Keduanya telah Allah jaga dari setan. Begitu pula dengan orang yang memiliki sifat yang dimiliki oleh keduanya, sebagaimana disebutkan dalam ayat (sungguh benar-benar akan aku sesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hambaMu yang terpilih/dikhususkan untuk taat) Shaad 82-83. Adapun tangisan bayi yang keras yang disebabkan oleh gangguan setan tersebut hanya merupakan kiasan atas betapa inginnya setan untuk mengganggu anak manusia, sampai-sampai digambarkan seolah-olah setan memukulnya dengan tangannya. Adapun sentuhan yang sebenarnya, sebagaimana yang disangkakan oleh orang-orang yang salah, itu tidak mungkin. Andaikan setan itu dimungkinkan oleh Allah untuk menyentuh manusia, tentu dunia akan dipenuhi oleh teriakan manusia karena disentuh oleh setan. Dari penafsiran Az-Zamkhsyari tersebut, nampak bahwa ia tidak tahu secara pasti akan keshahihan hadits tersebut. Andaikan hadits tersebut benar-benar shahih, maka itu makna kiasan. Ia mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa sentuhan tersebut nyata, yaitu pendapat yang dipilih oleh ahlu sunnah wal jamaah.

Adapun Al-Alusi setelah menafsirkan ayat Isti’adzah, beliau menyatakan bahwa gangguan setan tersebut nyata. Beliau menguatkan pendapat beliau dengan hadits-hadits dan atsar-atsar. Beliau juga menukil bantahan Al-Qadli Abdul Jabbar dan Az-Zamakhsyari kemudian memberikan tanggapan beliau atas keduanya.

Al-Alusi menyatakan bahwa hadits-hadits tentang gangguan nyata setan tersebut berderajat shahih sehingga harus diterima. Adapun sangkaan dipenuhinya dunia oleh teriakan manusia karena disentuh oleh setan, itu tidak terjadi karena Allah juga menugaskan para malaikat menjaga hamba-hambanya yang beriman sehingga setan tidak bisa leluasa mengganggu mereka, sebagaimana disebutkan dalam hadits dan dalam salah satu penafsiran ayat 11 dari S. Ar-Ra’d.

  • Muqaranah manhaji yaitu membandingkan antara metode-metode yang dipakai oleh dua orang mufassir atau dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dalam kitab-kitab mereka. Perbandingan ini biasanya berkisar dalam masalah penggunaan seorang mufassir terhadap kaidah-kaidah umum dalam bidang bahasa, nahwu, dan sharaf, pembahasan qira’ah, munasabah, atsar-atsar, dan sikap mereka terhadap israiliyyah dan bid’ah-bidah. [10]

Misalnya pendapat Ibnu Taimiyyah tentang kitab tafsir yang paling dekat dengan Al-Quran dan As-Sunnah. [11] Beliau menyatakan: “Paling shahihnya kitab tafsir yang beredar di tengah-tengah muslimin adalah kitab tafsir Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Beliau menyebutkan padanya perkataan-perkataan Salaf beserta sanadnya dan tidak ada bidah padanya. Adapun dari ketiga kitab tafsir yang ditanyakan tadi, yang paling selamat dari bidah dan hadits dlaif adalah tafsir Al-Baghawi. Akan tetapi, kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Ats-Tsa’labi dengan dihilangkannya hadits maudlu’ dan bid’ah darinya. Adapun Al-Wahidi, ia adalah murid Al-Baghawi. Al-Wahidi lebih menguasai bahasa Arab dari gurunya. Kedua kitab tafsir tersebut memiliki banyak manfaat, hanya saja ada nukilan-nukilan yang bathil padanya. Adapun tafsir Az-Zamakhsyari, ada banyak bidah padanya. Tafsir Al-Qurthubi jauh lebih baik, lebih dekat kepada Al-Quran dan As-Sunnah, dan lebih selamat dari bidah. Meskipun seluruh kitab tafsir yang disebutkan tidak lepas dari kritikan, kita tetap harus adil. Kitab tafsir Ibnu Athiyyah lebih baik dari tafsir Az-Zamakhsyari, lebih benar nukilan dan pembahasannya dan lebih selamat dari bidah, meskipun masih ada sedikit juga. Jadi, tafsir Ibnu Athiyyah adalah yang paling baik dari kitab-kitab tafsir tersebut. Namun begitu, yang paling baik adalah kitab Tafsir Ibnu Jarir.

Walaupun begitu, menurut Dr. Mushthafa Al-Musyani, tafsir Az-Zamakhsyari mempunyai kelebihan dalam bidang balaghah dan kedalaman maknanya. Kalimat-kalimatnya yang ringkas mampu menggambarkan masalah-masalah fikih yang rumit. Pembahasannya begitu mendalam sehingga mampu menyingkap rahasia-rahasia kemukjizatan Al-Quran. [12]

  • Muqaranah ittijahi [13] yaitu membandingkan orientasi (kecenderungan-kecenderungan dan aliran-aliran yang dianut) dua orang mufassir atau lebih dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dalam kitab-kitab mereka. Corak ini akan nampak mendominasi dan menonjol pada hampir seluruh penafsirannya.

Misalnya, perbandingan antara penafsiran Az-Zamakhsyari dengan Abu Hayyan dalam penafsiran ayat يضل به كثيرا. [14]Az-Zamakhsyari mengatakan: “Penyandaran idllal (penyesatan) kepada Allah itu penyandaran perbuatan kepada sebabnya.Ketika Allah itu membuat sebuah perumpamaan yang menyesatkan sebagian orang, maka berarti Allah juga menjadi sebab kesesatan mereka. Adapun Abu Hayyan menyatakan: “Penyandaran idllal (penyesatan) kepada Allah itu penyandaran hakiki, sebagaimana penyandaran petunjuk. Allahlah pencipta petunjuk dan kesesatan.” Dari perbandingan di atas, didapatkan bahwa Az-Zamakhsyari menafsirkan ayat tadi sesuai dengan madzhabnya: madzhab Mu’tazilah. Orang-orang mu’tazilah berpendapat manusialah yang menentukan amalannya. Setiap perbuatannya adalah keinginannya, bukan keinginan Allah. Jadi, ialah yang menentukan apakah ia memilih petunjuk atau kesesatan. Adapun Abu Hayyan menafsirkan ayat tadi sesuai dengan madzhab Ahlu sunnah wal jamaah, yang menyatakan bahwa Allahlah pencipta, pemilik, dan pemelihara segala sesuatu, termasuk di antaranya amalan manusia. Allah lah yang menentukan sebab akibatnya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi. Allah juga memberitahu manusia hanya mempunyai keinginan, sedang Allahlah yang memiliki kemampuan dan kemungkinan/kesempatan. Dan tidaklah kalian menginginkan sesuatu kecuali apa yang Allah inginkan. S. At-Takwir: 28-29.

[1] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Quran, juz 19, hlm. 154-155.

[2] Asy-Syanqithi, Adlwaul Bayan, juz 2, hlm. 209.

[3] Asy-Syanqithi, Adlwaul Bayan, juz 2, hlm. 209.

[4]   Jam’iyyah Hafadzah Al-Quran, Metode Tafsir Muqarin dan Maudlu’I, hlm. 4.

[5] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Quran, juz 17, hlm. 75

[6] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 160

[7] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 160-163.

[8] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 164.

[9] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 166-169.

[10] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 169.

[11] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 172.

[12] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 171-172.

[13] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 174.

[14] Dr. Mushthafa Ibrahim Al-Musyani, Tafsir Maqarin, Dirasah Ta’shiliyyah, hlm. 177-178

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Tafsir dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s