Hermeneutika

Secara harfiah hermeneutika artinya “tafsir”. Secara etimologis istilah ini mula-mula berasal dari bahasa Yunani yaitu HERMENEUIN yang artinya menafsirkan. Istilah ini merujuk kepada salah seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani yang dikenal dengan nama dewa HERMES ( Mercurius ). Mitologi Yunani mengatakan bahwa Hermes dikenal sebagai dewa yang bertugas menyampaikan pesan-pesan dari dewa-dewa kepada manusia.

Pada awalnya penggunaan hermeneutika ini merupakan kepanjangan perintah/ ucapan dari dewa-dewa Yunani kepada manusia melalui tokoh (=mediator) yang bertugas menjelaskan apa kata dewa-dewa tersebut. Artinya tokoh-tokoh ini dianggap mendapat inspirasi dewa-dewa kemudian meneruskan dengan gaya bahasanya kepada manusia sebagai obyek. Mereka diberi kebebasan berekspresi dengan caranya bahkan menyesuaikan dengan budaya dan susunan bahasa manusia pada masa itu. Karena yang menjadi dasar pokok tujuannya adalah sampainya pesan dewa kepada manusia.

Pada perkembangan selanjutnya secara filosofis, kedudukan dewa Yunani ini diusung oleh para pendeta dari kalangan ahli kitab Yahudi dan Nashoro. Dalam arti bahwa para pendeta mengklaim sebagai wakil Tuhan dan merupakan kepanjangan tanganNya sehingga mempunyai hak yang istimewa dan tidak boleh dibantah. Hal inilah yang dikemudian hari dikritik dan tidak bisa diterima oleh umatnya, mereka mengadakan protes keras. Kritik ini juga berlanjut terhadap kitab mereka Bibel melalui suatu metode yang dinamakan metode hermeneutika.

Akhirnya dikemudian hari hermeneutika ini juga dikembangkan oleh para teolog dan filosof di Barat sebagai metode penafsiran secara umum dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora.   Dalam metode hermeneutika ini ada definisi umum yang dapat menjelaskan perbedaan penggunaannya menurut para tokoh hermeneutika.

Hermeneutika Menurut Para Ahli

  1. Jhon Martin Caladinus (1710 – 1759 M) berpendapat bahwa humaniora berpusat pada seni penafsiran sedang hermeneutika adalah nama lain dari seni itu sendiri. Hermeneutika adalah  seni yang mengandung kaidah untuk menggapai pemahaman sempurna tentang ungkapan verbal dan tertulis. Ia menyerupai logika dan dapat membantu penafsir untuk menjelaskan kesamaran teks. (Al-Mahajjah edisi 6, musim dingin 2003 M/1423 H halm. 18 )
  2. Fredrich D. Ernest Schleirmacher ( 1768 – 1734 M ) melihat hermeneutika sebagai seni memahami dan menguasai. Dia mengatakan bahwa penafsiran atas teks adalah terbuka untuk selalu disalah pahami, sehingga diharuskan menggunakan hermeneutika sebagai kumpulan kaidah-kaidah metodologis agar terjaga dari kesalahpahaman, tanpa disiplin ini tidak ada lagi jalan untuk menghasilkan sebuah pemahaman.
  3. Wilhem Dilthey. Sejarahlah yang mempunyai otoritas atas makna teks, bukan pengarang teks.
  4. Fredrich August Wolf mendefinisikan dalam rentang kuliah tahun 1785 – 1807 M. tentang ensklopedia penelitian klasik bahwa “Hermeneutika adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang membantu untuk memahami makna-makna tanda”. Tujuannya untuk menguasai pemikiran-pemikiran verbalis maupun tertulis dari pengajar atau penulis secara tepat. Pemahaman ini mengharuskan bahasa teks dan kondisi historisnya difahami secara utuh agar dapat sampai pada pemahaman dan penguasaan makna. Pengetahuan historis adalah meliputi kehidupan pengarang serta kondisi historis dan geografis yang menyertai nya, jadi penafsir yang cerdas adalah yang mengetahui semua yang diketahui oleh pengarangnya.
  5. William Dilthey ( 1833 – 1911 M ) melihat bahwa hermeneutika adalah ilmu yang bertugas untuk menghadirkan metode-metode sains untuk ilmu-ilmu humanoria. Tujuan ilmu hermeneutika adalah mengangkat nilai dan kedudukan illmu-ilmu humanoria dan menyeimbangkan nya dengan ilmu-ilmu eksperimental. Karena hakekat kepastian dan keyakinan dalam ilmu eksperimental terletak pada metode-metodenya yang terang dan jelas. Agar ilmu humanoria dapat menjadi sains maka tidak ada jalan lain selain membersihkan metode-metodanya serta menerangkan dasar-dasarnya , rukun-rukunnya yang saling terkait dan tertanam yang dianggap pusat dari pembenaran-pembenaran ilmu humanoria dan permasalahannya secara keseluruhan. (ibid halm. 20).
  6. Peneliti modern Jerman , Papner, 1975 M. Dalam makalah “ Hermeneutika Transedental” bahwa hermeneutika adalah proyek pemahaman.
  7. Filosof Martin Haideger ( 1889-1976 M), mencoba memahami teks dengan metode eksistensialis. Iamenganggap teks adalah suatu ketegangan dan tarik menarik antara kejelasan dan ketertutupan, antara ada dan tidak ada. Eksistensi bukanlah yang terbagi antara wujud transenden dan horisontal melainkan bersifat tunggal yaitu eksisitensi humanisme. Semakin dalam kesadaran manusia terhadap eksistensinya maka sedalam itulah pemahamannya atas teks. Teks tidak lagi mengungkapkan pengalaman historis yang terkait dengan satu peristiwa akan tetapi dengan pengalaman eksistensialnya manusia bisa meresapi wujudnya dan cara dia bereksistensi sebagai unsur penegas dalam proses memahami suatu teks. Semua teks sama secara hierarkis, sakralitas teks agama tidak lagi mendapatkan tempat dalam rasionalitas modern. (Fahmi Salim, Kritik study Alquran Kaum Liberal , halm. 74)
  8. Hans George Gadmer ( 1900 – 2002 M ), menolak segala bentuk kepastian dengan titik tekan logika dialektik antara pembaca dan teks secara eksistensialis, karena hakikatnya memahami teks itu sama dengan pemahaman kita atas diri dan wujud kita sendiri.
  9. Paul Ricoer (1913-2005 M), Eric D.Hirsch (1928M..), Emillio Betti (1890-2005 M) mengajukan teori obyektifitas dalam aliran hermeneutika yang melampaui subyektivitas. Bagi mereka hermeneutika tidak berdiri diatas asas filsafat melainkan ilmu penafsiran teks atau teori tafsir.
  10. Hebermas, Hasil penafsiran seseorang selalu dicurigai membawa kepentingan politis .

Filosofi Hermeneutika

Secara global pemikiran – pemikiran dan ajaran-ajaran hermeneutika filosofi   ( Tulisan Fahmi Salim , M.A. Kritik terhadap Studi Alquran Kaum Liberal, Gema Insani,2010, halm. 65.) adalah sebagai berikut:

  1. Pemahaman terhadap teks adalah hasil gabungan antara cakrawala makna dari penafsir dengan makna yang ada didalam teks. Bias dari penafsir bukanlah sesuatu yang tercela melainkan sebuah eksisitensi dari buah pemahaman dan harus diterima sebagai kenyataan yang tidak terbantahkan.
  2. Pemahaman seratus persen obyektif terhadap teks adalah sesuatu yang tidak mungkin sebab elemen terdalam dari bias mufassir dan pra-pemahamannya merupakan       syarat terwujudnya pemahaman. Artinya wawasan penafsir memiliki peran penting dalam seluruh pemahaman dan penafsirannya.
  3. Proses pemahaman teks adalah proses yang tidak pernah mengenal kata final. Kemungkinan terjadinya pembacaan yang beragam atas teks tidak pernah ada batas akhir, karena pemahaman adalah penyusunan dan percampuran antara cakrawala makna-makna dalam diri penafsir dan makna dari teks. Setiap perubahan diri penafsir dan cakrawalanya maka selalu ada kemungkinan penyusunan dan percampuran baru serta pemahaman yang baru pula.
  4. Tidak ada sebuah pemahaman yang tetap dan statis ditempat, dan tidak benar jika ada pembatasan pemahaman yang berfungsi sebagai pemahaman yang final yang tidak pernah berubah bagi teks manapun.
  5. Penafsiran tidak bertujuan untuk menangkap kehendak pengarang sebab kita sedang berhadapan dengan sebuah teks bukan berhadapan dengan pengarangnya. Pengarang hanyalah salah satu dari pembaca teks dan tidak ada keistimewaan khusus diantara penafsir atau pembaca teks yang lain. Teks adalah entitas yang independen dan intens berdialog dengan penafsir sehingga muncul       pemahaman atas teks.
  6. Tidak ada bentuk atau ukuran standart untuk meneliti penafsiran yang bernilai atau tidak bernilai diantara satu dengan yang lain.
  7. Hermeneutika filosofis sangat sesuai dengan “relativisme penafsiran” dan sangat membuka pintu luas bagi penafsiran – penafsiran yang ekstrem.

Tujuan Umum Hermeneutika

Adapun kesimpulan tujuan hermeneutika secara   garis besar adalah :Hermeneutika Khusus (regeonal hermeneutics) adalah menyelesaikan problematika pemahaman terhadap teks-teks melalui teknik/kaidah khusus sehingga dapat mengungkap makna asli teks dalam tradisi yang mewarnai dan mewarisi atas sastra, hukum, kitab suci, yang memiliki tren humanisme. (Robert Hulb. Nadhariyyat at-Talaqqi terjemah Izzuddin dan Ismail, Jeddah 1995. Halm. 113.). Setiap medan ilmu mempunyai hermeneutika sendiri sehiggga tidak dibenarkan menggunakan hermeneutika penafsiran teks untuk digunakan dalam hermeneutika sastra-sastra klasik misalnya.

Hermeneutika Umum (general hermeneutics) adalah bentuk metode dan metodelogis untuk suatu pemahaman dan penafsiran yang tidak terkait khusus dengan cabang-cabang ilmu tertentu bahkan untuk memenuhi berbagai cabang ilmu penafsiran.

Hermeneutika Filsafat ( hermeneutical philosophy ) adalah aliran ketiga yang menetapkan perenungan filosofis terhadap fenomena pemahaman yang menjadi obyeknya tanpa melalui sebuah metode.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s