HERMENEUTIKA AL-QURAN

Josef Van Ess, proffesor emeritus dan pakar sejarah teologi Islam dari Univertsitas Tuebingen Jerman, menjelaskan asal usul hermeneutika dan latar belakang metode ini memang bukan untuk kajian ke-Islaman. (We should, however , be eware of the fact that German hermeneutics was not made for Islamic studies as such. It was originally a product of Protestant theology. Schleiermacher appleid it to the bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with Geerman literature and antiquity. When such people say tex the mean a literary artifact, something aesthetically appealing , normally an ancient text which exists only in one version, say a tragedy by Sophocles , Platozs dialogues, a poem by Holderlin. This is not necessarily so in Islamic studies.) “Perlu diketahui bahwa hermeneutika yang berasal dari Jerman itu sebenarnya memang bukan untuk ditujukan pada kajian keislaman. Pada asalnya ia merupakan produk teologi Protestan. Dipakai untuk mengkaji Bibel oleh Schleiermacher, dan belakangan oleh Heidegger dan Gadamer dalam kajian kesusasteraan Jerman maupun klasik. Yang mereka maksud dengan istilah teks ialah karya tulis buatan manusia, sesuatu yang indah lagi menarik, biasanya sebuah naskah kuno yang hanya terdapat dalam satu versi, seperti kisah tragedi karangan Sophocles, dialog-dialog karya Plato ataupun puisi-puisi yang ditulis Holderlin. Ini jelas tidak sama dengan dengan konsep teks dalam kajian Islam.

Hermeneutika Alquran Meniru Hermeneutika Bibel

Perlu diketahui bahwa mayoritas cendekiawan Kristen sudah lama meragukan autentisitas Bibel, bahkan akhirnya harus menerima kenyataan bahwa kitab Bibel itu tidak asli. Terlalu banyak campur tangan manusia padanya dan sulit membedakan mana yang benar-benar wahyu dan mana yang bukan ( Kurt Aland dan Barbara Aland ). Tahun 1720 R. Bentley (Master of Trinity college) menghimbau kepada umat Kriesten agar menyampakkkan kitab suci mereka yaitu naskah Perjanjian Baru versi Paus Clement 1592. Seruan tersebut berlanjut dengan munculnya edesi kritis Perjanjian Baru hasil karya Brooke Foss Westcott tahun 1825-1903 dan Fenton John Anthony Hort 1828-1892. Mereka menginginkan umat Islam melakukan hal yang sama seperti apa yang telah mereka lakukan.

Alasan Pemakaian Hermeneutika Pada Alquran

Keberhasilan hermeneutika dalam mengadakan revolusi besar-besaran pada penafsiran Bibel dianggap sebuah kesuksesan bagi kaum liberal. Mereka menganggap golongan yang tidak menerima hermeneutika Bibel sebagai kelompok ortodoks dan fundamentalis ekstrimis. hal yang sama juga akan diberlakukan terhadap golongan Islam yang menolak hermeneutika terhadap Alquran.

Mereka mempunyai ambisi untuk mengulang kesuksesan metode hermeneutika pada Bibel itu terhadap Alquran yang dalam beberapa hal dianggap mempunyai kesamaan. Tentu hal ini bak gayung bersambut oleh kaum orientalis Barat sebagai jalan dan peluang untuk merubah kesakralan Alquran dan pembawanya (Nabi Muhammad) .

Dilain fihak ada sekelompok orang yang mengkritisi metode penafsiran konvensional dan berusaha mati-matian untuk mengganti penafsiran Alquran dengan menggunakan metode hermeneutika. Alasan-alasan yang dicoba dipergunakan diantaranya dikemukakan oleh Abu Zaid (Lihat buku “Alquran dihujat”, Henry Sholahuddin, Alqolam 2007) dan tokoh Liberal lainnya adalah :

  • Menurut Abu Zaid, pembacaan teks keagamaan hingga saat ini masih belum menghasilkan interpretasi yang bersifat ilmiah-obyektif, bahkan banyak diwarnai unsur-unsur mistik, khurofat, dalam interpretasi literal yang mengatasnamakan agama.
  • Dalam mewujudkan interpretasi yang hidup dan saintifik terhadap teks-teks keagamaan seharusnya dipakai interpretasi rasional dan menekankan pentingnya kesadaran ilmiah dalam berinteraksi dengan teks keagamaan itu.
  • Kita harus keluar dari kebuntuan dan melepaskan diri dari keterpasungan interpretasi yang tidak sejalan dengan tabiat dan sifat dasar teks. Hal ini dihegonomi oleh unsur ideologis kalangan fundamentalis yang mengabaikan unsur politik, keadilan sosial , ekonomi dll.
  • Anggapan bahwa Islam/Alquran sebagai satu-satunya solusi dan merupakan komponen substansif-orisinil dipandang sebagai sebuah problem yang tidak ilmiah dan obyektif saat ini dan lebih bersifat khurofat. Terlebih mendudukkan Hadits Nabi sebagai wahyu serta sumber hukum dengan tanpa penghapusan Alquran adalah tidak konsisten dan berakibat kaum muslimin ikut mengkeramatkannya dan tidak memanusiakan Nabi. Adanya muatan adat-istiadat dan budaya lokal yang terkandung dalam hadits menjadikan hadits tidak wajib diamalkan. Sebagaimana terjadi pada sekelompok muslimin lain yang menganggap Alquran sudah cukup dan tidak memerlukan Hadits, tetapi dimusuhi oleh kelompok mayoritas.
  • Meragukan validitas hadits, baik hadits ahad yang bisa terjadi adanya ketidak jujuran dalam periwayatannya yang tunggal maupun yang mutawatir. Hadits mutawatir hanyalah tidak lebih dari sekedar bentuk jamak dari hadits ahad yaitu persekongkolan perowi- perowinya atas suatu hadits lalu dilegalkankan oleh suatu kekuatan politik dan melenyapkan hadits-hadits lain yang dianggap tidak sejalan.
  • Karya-karya ulama klasik yang dianggap sebagai teks yang sakral dan tidak boleh disentuh oleh golongan yang fanatik tradisional melainkan dengan pengagungan dan penghormatan semata maka perlu dirubah.
  • Adanya kriteria maqbul-madzmum (yang diterima dan yang di cela) oleh para ulama abad 4 dan 5 dibidang tafsir oleh ulama ahlussunnah pemegang otoritas terhadap golongan lain yang minoritas
  • Adanya Islamisasi dibidang ilmu pengetahuan, kesusasteraan dan seni dikhawatirkan berakibat stagnasi pemikiran, merebaknya dominasi tokoh-tokoh agama, merampas kebebasan berijtihad dalam berbagai ilmu pengetahuan. Sehingga yang melakukan ijtihad dicap sesat, atheis, kafir, hanya karena beda pendapat dengan tokoh agama terhadap teks keagamaan. (Naqd alkhitab hal.186-188)
  • Dianjurkan wacana keagamaan yang diwarnai wacana pencerahan yang mengarah kepada historisitas pemikiran keagamaan. Karena tadisi keilmuan yang diwariskan generasi terdahulu (turath) sebatas fenomena historis yang berkembang pada waktu itu yang banyak diwarnai perselisihan antar aliran.
  • Interpretasi teks-teks Alquran dan Hadits hanya tunduk pada hukum-hukum yang mengatur gerak pemikiran manusia dan tidak berasumsi bahwa agama adalah sakral dan mutlak. Alquran yang sakral dan mutlak sebatas dalam bentuknya yang metafisis saat berada di lauh mahfudz dan tidak bisa dibuktikan melainkan hanya sekedar cerita dalam Alquran. Kemudian menjadi pudar, relatif dan nisbi saat diwahyukan kepada Nabi dan dipahami manusia karena sudah berada dalam akal pembacaan manusia yang bercampur dengan pewarnaan dan kepentingan para penafsir.
  • Memfokuskan pembacaan teks pada makna universal teks keislaman dalam konteksnya yang saling berkaitan antara parsial, universal dan realitas sosial historis. Rasionalitas adalah aktivitas berakal dan lawan dari jahiliyah , liberal (hurriyyah) adalah kemerdekaan dan lawan perbudakan yang digerakkan oleh kekuatan eksternal yang menghalangi bertindak bebas dan adil.
  • Sekularisme / hermeneutika tidak lain hanyalah ajaran/ metode tentang interpretasi realistis dan pemahaman yang ilmiah terhadap problim teks agama. Karena sejak awal diwahyukannya Alquran dirasa sulit untuk difahami dan dijelaskan terlebih setelah Nabi wafat. Menolak tuduhan para fundamentalis bahwa sekuler adalah atheis yang berusaha memisahkan agama dari kehidupan masyarakat dan kehidupannya.
  • Agama adalah kumpulan teks-teks suci dan tetap secara historis, sedang “pemikiran agama” adalah segala usaha ijtihad pemikiran manusiawi untuk memahami teks-teks agama, menginterpretasaikannya dan menemukan maknanya yang terus berkembang seiring dengan jaman yang melingkunginya.
  • Pemahaman teks keagamaan dalam pemikiran Islam Kontemporer melalui cara interpretasi realistis adalah keniscayaan yang tak terelakkan. Sebab interpretasi adalah bagian dari pemikiran dan pemikiran adalah produk alami yang lahir dari sebuah kondisi global historis dan realistis sosial pada jamannya . Hal ini adalah positif dalam rangka mengantisipasi perubahan jaman dan dalam rangka mengkaji unsur-unsur kemajuan umat baik dengan analisa, interpretasi maupun evaluasi terhadap teks keagamaan. Karena pada intinya interpretasi realitas adalah sebagai gerakan menyingkap tabir ketidaktahuan/ angan-angan dengan berpijak pada hal-hal yang diketahui.
  • Pencipta teks (Allah dan Rosul) bukan sebagai poros perhatian dan landasan berpijak melainkan pembaca teks sebagai starting point dan sebagai kuncinya karena memiliki perangkat ilmiah kekinian. Teks bukan lagi milik pengarangnya tetapi sudah menjadi milik para pembacanya.
  • Teks adalah hasil dari sebuah realitas maka setiap perubahan realitas menuntut perubahan dalam pembacaan teks sampai terjadi kesepaduan antara teks dan realita. Melalui bahasa dan budaya terbentuklah sebuah pemahaman yang bisa terbaharui maknanya sesuai tuntutan jaman. Sebab makna yang tetap dan baku menyebabkan mitos dengan mengabaikan sisi kemanusiaannya dan hanya berfokus pada sisi keghoibannya saja.
  • Alquran tidak lain adalah fenomena historis karena firman Tuhan adalah bagian dari perbuatan-Nya yang telah teraktualisasi didunia yang bersifat temporal atau historis. Karenanya Alquran juga termasuk fenomena sejarah dan harus dipahami dengan pendekatan historis.
  • Alquran adalah sebuah teks linguistik sehingga sisi kemutlakannya yang berasal dari Tuhan tidak bisa mencegah untuk didekati secara ilmiah linguistik dan latar belakang sosio historisnya. Terbukti adanya kata-kata yang diambil dari bahasa ajam (asing, non Arab) menunjukkan Alquran mengandung unsur linguistik manusiawi.
  • Bila pemahaman/penafsiran dari Nabi diyakini sebagai justifikasi adanya makna subyektivitas teks, maka hal ini akan mengakibatkan kemusyrikan. Karena hendak menyamakan yang mutlak (Tuhan) dengan yang relatif (manusia/ Nabi), serta yang tetap dan yang berubah.
  • Dalam berenteraksi dengan Alquran tidak diperlukan otoritas keilmuan, kaidah, persyaratan dan sebagainya melainkan setiap orang berhak memberikan penafsiran. Syarat syahnya sholat harus membaca surat Alfatihah dalam bahasa Arab menunjukkan pandangan fanatisme ideologis Arab-Qurasy dan tidak adanya toleransi terhadap kaum muslimin non Arab yang tidak berbahasa Arab.
  • Wahyu dalam tradisi keKristenan tidak pernah mengenal kata final, melainkan ia terus berkembang dan tetap akan hadir dalam setiap penantian. Perjanjian lama dan perjanjian baru ditulis membutuhkan waktu lebih dari 1000 tahun. Wahyu ada di Bibel dan juga berupa religius spiritual, bergentayangan kemana pergi menjadi sumber kehidupan. (Romo Pujo Sumartono). Teori diatas di samakan dengan proses kompilasi (pengumpulan) dimasa Abu Bakar lewat Zaid bin Tsabit hingga masa Utsman bin Affan, jadi Alquran tidak bisa lepas terbentuk secara historis.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s