Tafsir Ijmali

1 Pengertian Tafsir Ijmali
Tafsir adalah keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Qur`an agar maksudnya lebih mudah dipahami. Sedangkan menurut istilah, tafsir adalah upaya seseorang untuk menjelaskan makna dan maksud dari ayat-ayat Al-Qur`an sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, menurut kadar kepampuannya.
Ijmali berasal dari kata ijmal yang disertai dengan ya nisbah. Kata tersebut berasal dari kata kerja jamalaatauajmala yang berarti jama’ahu ‘an tafarruqin (mengumpulkannya). Kata ajmala juga semakna dengan kata mujmal. Istilah ini sering digunakan untuk menyebut“kalimat yang singkat”. Sedang fungsi dari ya nisbah tersebut adalah menunjukkan sifat. Kata ijmal dalam bahasa Indonesia berarti global, sehingga arti kata ijmali adalah bersifat global.
Jadi tafsir ijmali adalah tafsir yang bersifat global. Tafsir/penafsiran ini bersifat global, karena menggunakan metode ijmali/global.
Dalam KBBI disebutkan bahwa makna metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai yang dikehendaki. Adapun kata global mempunyai arti: secara umum dan keseluruhan, secara bulat, secara garis besar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa makna metode ijmali (dalam tafsir) adalah cara yang digunakan oleh mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, yaitu dengan menafsirkannya secara garis besar dan keseluruhan.
Menurut Prof.DR. M. Quraish Shihab, metode ijmali (global) adalah cara penyajian penafsiran secara global dan singkat sehingga terasa oleh pembacanya bagai tetap berada dalam gaya dan kalimat-kalimat Al-Quran.
Ada juga yang memberi takrif sebagai berikut: metode ijmali adalah metode seorang mufassir dalam mengemukakan makna ayat secara umum, tidak panjang-lebar dan terperinci, seperti i’rab, balaghah, fawaid, dll
Urutan penafsiran dalam metode ijmali ini sesuai urutan dalam mushaf.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa makna tafsir ijmali adalah keterangan ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan urutan surat-surat dalam mushaf secara ringkas dan menyeluruh, dengan menggunakan kalimat-kalimat yang mudah dan ringkas, sehingga mudah untuk dipahami.
Pada penafsiran ini kadang-kadang juga disertakan keterangan tentang hal-hal yang dianggap perlu, seperti lafal-lafal yang asing, sebab nuzul, cerita, atau hadits.

2 Ciri-Ciri Tafsir Dengan Metode Ijmali
1) Urutannya sesuai dengan urutan mushaf.
2) Mufassir langsung menafsirkan ayat al-Qur’an dari awal sampai akhir tanpa perbandingan dan penetapan judul
3) Setiap surat dibagi menjadi kelompok-kelompok ayat, lalu ditafsirkan secara ringkas dan global.
4) Sebagian lafal dari ayat menjadi pengait antara nash ayat dengan tafsirnya.
5) Lafal dan bahasanya tidak jauh dari nash Al-Quran.
6) Mufassir tidak banyak mengemukakan pendapat dan idenya
7) Mufassir tidak banyak memberikan penafsiran secara rinci tetapi ringkas dan umum, meskipun pada beberapa ayat tertentu memberikan penafsiran yang agak luas, namun tidak pada wilayah analitis.
3 Kelebihan Tafsir Dengan Metode Ijmali
1) Praktis dan mudah dipahami: Tafsir yang menggunakan metode ini terasa lebih praktis dan mudah dipahami. Tanpa berbelit-belit pemahaman al-Qur’an segera dapat diserap oleh pembacanya.Pola penafsiran serupa ini lebih cocok untuk para pemula.Tafsir dengan metode ini banyak disukai oleh ummat dari berbagai strata sosial dan lapisan masyakat
2) Bebas dari penafsiran israiliah: Dikarenakan singkatnya penafsiran yang diberikan, maka tafsir ijmali relatif murni dan terbebas dari pemikiran-pemikiran Israiliat yang kadang-kadang tidak sejalan dengan martabat al-Qur’an sebagai kalam Allah yang Maha Suci. Selain pemikiran-pemikiran Israiliat, dengan metode ini dapat dibendung pemikiran-pemikiran yang kadang-kadang terlalu jauh dari pemahaman ayat-ayat al-Qur’an seperti pemikiran-pemikiran spekulatif yang dikembangkan oleh seorang teologi, sufi, dan lain-lain
3) Akrab dengan bahasa al-Qur’an: Tafsir ijmali ini menggunakan bahasa yang singkat dan padat, sehingga pembaca tidak merasakan bahwa ia telah membaca kitab tafsir. Hal inidisebabkan, karenatafsirdenganmetode global menggunakanbahasa yang singkatdanakrabdenganbahasaarabtersebut. Kondisiserupainitidakdijumpaipadatafisr yang menggunakanmetodetahlili, muqarin, danmaudhu’i.Dengandemikian, pemahamankosakatadariayat-ayatsucilebihmudahdidapatkandaripadapenafsiran yang menggunakantigametodelainnya.

4 Kelemahan Tafsir Dengan Metode Ijmali
1) Menjadikan petunjuk al-Qur’an bersifat parsial: al-Qur’an merupakan satu-kesatuan yang utuh, sehingga satu ayat dengan ayat yang lain membentuk satu pengertian yang utuh, tidak terpecah-pecah dan berarti, hal-hal yang global atau samar-samar di dalam suatu ayat, maka pada ayat yang lain ada penjelasan yang lebih rinci. Denganmenggabungkankeduaayattersebuatakandiperolehsuatupemahaman yang utuhdandapatterhindardarikekeliruan. Contoh: penafsiran ayat 11 surat Ar-Ra`du, dalam Tafsir Jalalain:
“لَهُ” لِلْإِنْسَانِ “مُعَقِّبَات” مَلَائِكَة تَتَعَقَّبهُ “مِنْ بَيْن يَدَيْهِ” قُدَّامه “وَمِنْ خَلْفه” وَرَائِهِ “يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْر اللَّه” أَيْ بِأَمْرِهِ مِنْ الْجِنّ وَغَيْرهمْ “إنَّ اللَّه لَا يُغَيِّر مَا بِقَوْمٍ” لَا يَسْلُبهُمْ نِعْمَته “حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ” مِنْ الْحَالَة الْجَمِيلَة بِالْمَعْصِيَةِ “وَإِذَا أَرَادَ اللَّه بِقَوْمٍ سُوءًا” عَذَابًا “فَلَا مَرَدَّ لَهُ” مِنْ الْمُعَقِّبَات وَلَا غَيْرهَا “وَمَا لَهُمْ” لِمَنْ أَرَادَ اللَّه بِهِمْ سُوءًا “مِنْ دُونه” أَيْ غَيْر اللَّه “مِنْ” زَائِدَة “وَالٍ” يَمْنَعهُ عَنْهُمْ.
[Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum] tidak mencabut dari mereka akan nikmatnya [kecuali mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka], dari sifat-sifat yang bagus dan terpuji menjadi perbuatan maksiat… .
Dengan penafsiran ayat 53 surat Al-Anfal:
“ذَلِكَ” أَيْ تَعْذِيب الْكَفَرَة “بِأَنْ” أَيْ بِسَبَبِ أَنَّ “اللَّه لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَة أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْم” مُبَدِّلًا لَهَا بِالنِّقْمَةِ “حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ” يُبَدِّلُوا نِعْمَتهمْ كُفْرًا كَتَبْدِيلِ كُفَّار مَكَّة إطْعَامهمْ مِنْ جُوع وَأَمْنهمْ مِنْ خَوْف وَبَعْث النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَيْهِمْ بِالْكُفْرِ وَالصَّدّ عَنْ سَبِيل اللَّه وَقِتَال الْمُؤْمِنِينَ
sesungguhnya [Allah selamanya tak pernah mengubah nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu kaum] dengan menggantikannya dengan kutukan [kecuali mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka], yakni mereka mengganti nikmat itu dengan kekafiran.
2) Tidak ada ruangan untuk mengemukakan analisis yang memadai: Tafsir yang memakai metode ijmali tidak menyediakan ruangan untuk memberikan uraian dan pembahasan yang memuaskan berkenaan dengan pemahaman suatu ayat.

5 ContohKitab Yang Menggunakan Metode Ijmali
Contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ijmali, antara lain:

1) Tafsir Jalalain, karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin Asy-Syuyuthi
Tafsir Jalalain, termasuk tafsir bir Ra’yil mamduh. Mengunakan metode ijmali. Dfalam tafsir ini disebutkan juga asbabun nuzul, sebagian i’rab dan cara membaca lafal, dan kembalinya dhamir. Salah satu keistimewaan tafsir ini adalah tafsir ini sangat singkat dan padat.
2) Tafsir Ibnu Abbas.
3) Mushafush Shahabah Li Kalimatil Qur’an, karya Abdullah ‘Ulwan.
4) Taisiru Karimir Rahman, karya Abdurrahman As-Sa’di.
5) Al-Mushaf Al-Mufassar karya uastadz Muhammad Farid Wajdi.
6) At-Tafsirul Wadhih karya DR. Muhammad Mahmud Hijazi.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s