Israiliyyat dalam Tafsir Al-Quran

I S R A I L I Y Y A T
I. DEVINISI ISRAILIYYAT
Kata Israiliyyat merupakan bentuk jamak dari kata Israiliyyah. Ini merupakan penisbatan pada kata majemuk Bani Israil. Penisbatan kata yang semacam ini, terjadi pada suku kata kedua dari kata majemuk tesebut, bukan pada suku kata pertamanya. Adapun Israil adalah Nabi Ya’qub a.s. bin Ishaq bin Ibrahim, kholilulloh (kekasih Alloh), bapak para cucu yang dua belas. Israil merupakan julukan Nabi Ya’qub a.s. Adapun Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub dan para anak turun mereka sesudahnya sampai generasi Nabi Musa a.s. yang dikenal dengan nama “Yahudi”; hingga masa Nabi Isa a.s. yang kemudian mereka disebut dengan “Nashoro”; kemudian sampai pada Nabi kita Muhammad saw., penutup para nabi. Setelah itu, orang yang beriman kepada Muhammad saw. dari kalangan bani Israil menjadi termasuk golongan muslimin dan kemudian disebut dengan “Muslim Ahli Kitab”.
Israiliyyat adalah cerita atau kejadian yang diriwayatkan bersumber dari seorang bani Israil. Kata Israiliyyat walaupun tampaknya hanya mengisyaratkan kepada cerita-cerita yang diriwayatkan bersumber dari orang-orang yahudi, namun para ulama tafsir dan hadits menggunakn istilah tersebut secara umum untuk semua cerita terdahulu yang dinisbatkan kepada orang yahudi maupun nashoro. Lebih dari itu, para ahli tafsir dan pakar hadits menggunakan istilah tersebut secara lebih luas untuk semua berita-berita yang tidak ada asalnya pada sumber lama yang dicatut – dan didakwakan sebagai tafsir maupun hadits – oleh para musuh Islam dari kalangan yahudi dan lainnya. Mereka membikin-bikin berita tersebut dengan niat jahat agar aqidah para muslimin rusak.
Para ulama tafsir dan pakar hadits memutlakkan semua perkara tersebut di atas dengan sebutan Israiliyyat karena kebanyakan dongeng-dongeng dan kebatilan-kebatilan datang dari orang-orang yahudi. Yahudi merupakan kaum pendusta dan mereka adalah musuh utama yang amat menentang dan membenci Islam dan muslimin, sebagaimana kalam Alloh dalam kitab-Nya:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا اليَهُودَ وَ الَّذِيْ أَشْرِكُوْا
Sungguh benar-benar kamu akan mendapati kaum Yahudi dan orang-orang musyrik merupakan manusia yang paling sangat memusuhi orang-orang beriman. QS. Al-Maidah: 82.

II. BAHAYA ISRAILIYYAT TERHADAP AQIDAH PARA MUSLIMIN DAN TERHADAP KEMURNIAN ISLAM
Sebagian orang yang sibuk dengan tafsir menjadikan israiliyyat – yang berisi dongeng-dongeng dan kebatilan-kebatilan dinisbatkan kepada Rasululloh saw. dan para sahabat beliau -. sebagai bahan untuk menerangkan nas-nas Al-Qur’an. Tidak diragukan lagi yang demikian ini dapat membahayakn karena menimbulkan hal-hal berikut:
1. Rusaknya aqidah para muslimin karena israiliyyat mengandung penyerupaan pengkonkritan, dan penyebutan sifat-sifat yang tidak layak untuk Alloh. Mungkin juga israiliyyat menafikan ishmah (penjagaan Alloh) terhadap para nabi dan rasul serta menggambarkan criteria yang buruk dan memalukan yang tidak pantas dimiliki oleh mereka. Contoh penisbatan hal yang tidak layak untuk Alloh adalah pernyataan bahwa Alloh berehat pada hari ke tujuh setelah penciptaan langit dan bumi, padahal ayat Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa Alloh tidak merasa capek setelah penciptaan mereka.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ
Dan sungguh kami telah menciptakan langit-langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya dalam enam hari sedang rasa capek tidak menimpa kami. QS. Qof: 38
Adapun contoh penyebutan hal yang tidak selayaknya disandang oleh seorang nabi adalah yang terdapat pada cerita Nabi Harun bahwa beliaulah yang membuat patung anak sapi dan menyeru bani Israil untuk menyembahnya. Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan bahwa pembuat anak sapi tersebut adalah Samiriy (lihat QS Thoha: 83-90).
2. Israiliyyat menggambarkan ajaran Islam sebagi agama buatan dan batil yang tidak bersumber. Semua ajarannya khayalan, sesat dan menyesatkan. Misalnya adalah riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Dawud bersujud selam empat puluh hari sambil menangis hingga tumbuhlah rerumputan dengan sebab air mata beliau, kemudian beliau berteriak sehingga tumbuhan berdiri tegak.
3. Penisbatan israiliyyat yang berisi kedustaan hampir menghilangkan ketsiqotan para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in.
4. Israiliyyat hampir mengalihkan konsentrasi muslimin dari memahami makna Al-Qur’an, mentadaburi isinya, mengambil nasehat darinya serta membahas hukum-hukumnya. Israiliyyat menyibukkan muslimin pada hal-hal yang sepele dan sia-sia sehingga mengorbankan banyak waktu yang tidak bermanfaat. Contohnya adalah perbincangan seputar warna anjing ashabul kahfi dan nama-nama mereka; tongkat nabi Musa terbuat dari kayu macam apa; siapa nama anak kecil yang dibunuh oleh Nabi Khidzir; tentang panjang dan lebar serta tinggi kapal Nabi Nuh, nama-nama binatang yang disertakan ke dalam kapal, dan bahasan lainnya yang tidak diceritakan dalam Al-Quran karena tidak ada manfaat dalam penyebutannya.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Israiliyyat dalam Tafsir Al-Quran

  1. Bincang-bincang berkata:

    Salaamun alaikum … bagaimana dengan membaca sejarah2 lain? adakah ia juga MEMBUANG MASA? seperti yang disebut dalam artikel di atas bahawa kisah Israeliyyat itu membuang masa

    Bagaimana dengan masa orang yg menonton bola, hiburan2, perkara2 yg x ada sangkut paut dengan agama dan macam2 lagi?? Lebih baik dari orang yang ingin mengkaji kisah2 dari tafsir Al-Quran?

    Betul ada kisah2 Israeliyyat yang tidak bagus malah sampai ada yang patut ditolak seperti jika menghina para nabi, bercanggah dengan syariah dan seumpamanya. Tetapi wajarkah MENOLAK 100% Israeliyyat? Sedangkan ia juga salah satu sumber SEJARAH.

    Begitu juga tidak boleh tolak mentah-mentah kerana dikhuatiri ianya betul, maka kita sudah menolak kebenaran. Siapa kita untuk mengatakannya tidak betul jika tidak ada dalil dalam Agama yang menolaknya? Adakah kita hidup di zaman lampau dan menjadi saksi mata sendiri? Sedangkan kita tidak tahu suasana dan keadaan di zaman dahulu. Mungkin suatu yang kita rasa mustahil berlaku di zaman sekarang, tidak mustahil berlaku di zaman dahulu. Allah Maha Berkuasa.

    Bagaimana dengan sejarah2 dari barat yg langsung x ada perbahasan dari Ulama2 besar silam?

    “Janganlah kamu membenarkan (berita-berita yang dibawa) Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya, tetapi katakanlah, Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami….” [HR Bukhari]

    “Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil, itu tidak mengapa. Dan barangsiapa berbohong ke atasku dengan sengaja maka bersiaplah dia mengambil tempatnya di Neraka.” [HR Al-Bukhari]

    Sekadar pertanyaan dan perkongsian. Harap maaf. Jazaakallah wa jazaakumullahu khoir. Wallahu a’lam🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s