Metode Penafsiran Rasulullah

  1. METODE PENAFSIRAN RASULULLAH  r TERHADAP AL-QUR’AN

Metode penafsiran Rasulullah r terhadap Al-Qur’an dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam [1]:

  1. Sebagai Penguat al-Qur’an, tanpa ada tambahan baik berupa rincian maupun  penjelasan. Misalnya: hadits tentang birrul walidain, silaturrahim, memuliakan tetangga, dan sebagainya.
  2. Sebagai Penjelas (mubayyin) isi kandungan al-Qur’an. Termasuk katagori kedua ini   adalah:
  • Merinci yang global (tafshil al-mujmal).

Misalnya: hadits-hadits tentang perincian ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lain.

  • Mentakhshish yang umum ( tahshish al-‘am).

Sebagai contoh: hadits yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan zhulm dalam Qs.al-An’am:82 adalah syirik (HR. Bukhori)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata: “ ketika diturunkannya ayat الذين أمنوا ولم يلبسوا ايمانهم بظلم….الأية “…yaitu orang-orang yang beriman dan tidak mencampur aduk iman mereka dengan perbuatan dzalim…” , para sahabat merasa sangat terbebani dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan keterangan yang ada dalam ayat tersebut, kemudian mereka bertanya kepada Nabi r: “siapakah diantara kami yang tidak mendzalimi dirinya sendiri?, Nabi r menjawab: bukanlah pengertian dari ayat tersebut seperti yang kalian maksudkan, bukankah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (luqman as.): ان الشرك لظلم عظيم sesunguhnya yang dimaksud الظلم adalah perbuatan syirik”. (HR. Bukhori) [2]

  • Membatasi yang mutlak (taqyid al-muthlaq).

Misalnya: pembatasan dua tangan dalam Qs.al-Maidah: 38, dengan tangan kanan.

  • Menerangkan makna suatu lafal , misalnya : riwayat Uqbah bin ‘amir ra. سمعت رسول الله صتى الله عليه وسلم يقول وهو على المنبر: وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة, ألآ وان القوة الرمى. “ aku (Uqbah bin ‘amir) pernah mendengar Rasulullah r bersabda diatas mimbar: persiapkanlah diri kalian (sahabat) untuk menghadapi mereka (orang-orang kafir) dengan kekuatan yang kalian mampu/kuasai, dan ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah”
  1. Sebagai ‘Pembuat Hukum’ yang tidak disinggung oleh al-Qur’an.

Seperti: kewajiban mengqadha puasa bagi wanita haidh; larangan memadu istri dengan bibinya; hak waris nenek; larangan perhiasan emas dan sutra bagi laki-laki; dan lain-lain.

Bagian ketiga ini tidak bertentangan dengan al-Qur’an sama sekali-sebagaimana penjelasan Imam Ibnu al-Qoyyim. [3] Ia adalah hukum Nabi r yang wajib ditaati. Dan ini bukan berarti mendahulukan sunnah dari al-Qur’an, tetapi merupakan aplikasi dan implementasi perintah Allah swt untuk mentaati Rasul-Nya r. Apabila Rasulullah r tidak ditaati dalam bagian ini, maka ketaatan kepada beliau tidak ada artinya. Dan apabila beliau tidak wajib ditaati kecuali dalam hal-hal yang disebut secara eksplisit oleh al-Qur’an, maka tidak ada lagi ‘ketaatan khusus’ bagi Rasul r, sedangkan Allah swt berfirman: ”Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah” (Qs.al-Nisa’:80).

Selagi al-Qur’an mewajibkan taat kepada Rasul r dan menerima segala khabar dan keputusan beliau serta petunjuk sunnah bahwa syari’at terdiri dari dua sumber pokok, yaitu: al-Qur’an dan Sunnah, maka tidak dibenarkan pertanyaan sebagian orang Bagaimana mungkin Sunnah datang dengan hal baru? Bahkan intervensi dalam penetapan hukum?? Adapun pertanyaan yang benar adalah: Manakah hal baru dalam Sunnah yang wajib kita laksanakan, sehingga kita telah mengaplikasikan ayat-ayat yang memerintahkan taat kepada Rasulullah saw ??

Sebagian ulama -semisal Imam al-Syathibi [4]– melihat bagian ketiga ini bukan sebagai independensi sunnah dalan tasyri’. Mereka berpendapat bahwa semua makna yang dikandung oleh sunnah telah disinggung oleh al-Qur’an, baik secara global maupun terperinci, yaitu dengan meninjau kapasitas sunnah sebagai bayan. Kalau Allah swt menjadikan al-Qur’an sebagai penjelas bagi segala sesuatu, maka secara otomatis sunnah masuk di dalamnya. Hal ini dengan menganalogikan dengan nash atau memasukkan dalam kaedah umum syara’. Sebagai contoh: larangan memadu istri dengan bibinya adalah tidak lebih dari menganalogikannya dengan larangan memadu antara dua saudara kandung ; hak waris nenek ketika tidak ada ibu, tiada lain adalah menganalogikan nenek dengan ibu ; dan sebagainya.

‘Ala kulli haal, semua sepakat bahwa sunnah mempunyai hak untuk menghalalkan atau mengharamkan, mewajibkan atau menggugurkan kewajiban tersebut, baik hal tersebut dinamakan independensi sunnah dalam tasyri’ ataupun tidak.

Penjelasan dan keterangan mengenai al-Qur’an yang berasal dari Rasulullah r semacam ini kemudian disebut sebagai “tafsir bi al-manqul” atau “tafsir bi al-ma’tsur”

  1. DERAJAT TAFSIR RASULULLAH r

Ibnu Katsir rahimahullah dalam muqodimah tafsirnya telah menjelaskan tata cara tafsir yang benar, beliau berkata : [5]

“Apabila ada orang yang berkata,”Apakah cara tafsir yang paling benar ? jawabnya adalah bahwa cara yang paling benar (1) dengan menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an karena disebutkan dalam suatu ayat secara global namun telah dirinci penjelasannya dalam ayat yang lain. Jika engkau tidak mendapatkannya maka (2) carilah di dalam sunnah karena ia adalah penjelasan Al Qur’an… dan apabila kita tidak menemukannya di dalam Al Qur’an tidak juga di dalam As sunnnah maka (3) kita merujuk pendapat para shahabat karena mereka lebih mengetahui tentang tafsirnya sebab mereka langsung menyaksikan keadaan-keadaan yang hanya mereka yang mengetahuinya, juga karena mereka mempunyai pemahaman yang sempurna, ilmu yang lurus, dan amal shalih terutama para ulama mereka… dan apabila engkau tidak mendapatkannya di dalam Al Qur’an tidak juga dalam sunnah tidak juga pendapat para shahabat maka (4) banyak ulama yang merujuk pendapat Tabi’in… adapun menafsirkan Al Qur’an hanya dengan ro’yu semata maka hukumnya adalah haram.

Uraian Ibnu Katsir tersebut selaras dengan hadits Mu’ad bin jabal yaitu:

عَنْ مُعَاذٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ لَهُ :« كَيْفَ تَقْضِى إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟ ». قَالَ : أَقْضِى بِكِتَابِ اللَّهِ. قَالَ :« فَإِنْ لَمْ تَجِدْهُ فِى كِتَابِ اللَّهِ؟ ». قَالَ : أَقْضِى بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ :« فَإِنْ لَمْ تَجِدْهُ فِى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ». قَالَ : أَجْتَهِدُ بِرَأْيِى لاَ آلُو. قَالَ : فَضَرَبَ بِيَدِهِ فِى صَدْرِى وَقَالَ :« الْحَمْدُ للَّهِ الَّذِى وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِى رَسُولَ اللَّهِ »  [6]

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa Tafsir Rasulullah r berada pada tingkat kedua, yaitu setelah tafsir bilQur’an.

  1. PEMALSUAN TAFSIR RASULULLAH r

Pemalsuan yang terjadi di dalam tafsir Rasulullah r muncul sejak periode awal seiring dengan tersebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia. Gerakan pemalsuan ini terjadi sebagai dampak dari munculnya berbagai macam faham dan firqoh (golongan) yang menyempal dari aqidah Islam yang murni, yang di tandai dengan fitnah terbunuhnya Khalifah Utsman bin ‘Affan RA, dan berlanjut dengan terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib RA pada tahun ke 14 Hijriyah. Yang mana dengan terjadinya fitnah (terbunuhnya Khalifah Utsman RA dan Ali RA) tersebut muncullah Syi’ah dan Khawarij, serta berkembang sekte-sekte dan aliran-aliran Ahlul Bid’ah dan kaum penurut hawa nafsu.

Dan sungguh setiap kelompok sekte-sekte ini telah melancarkan propaganda untuk menguatkan Madzhabnya dengan memalsukan banyak riwayat . Maka penuhlah kitab-kitab Tafsir (secara khusus kitab-kitab Tafsir bil-Ma’tsur) dengan riwayat-riwayat palsu. Adapun sebab yang mendorong timbulnya pemalsuan yang terjadi di dalam kitab-kitab Tafsir adalah fanatisme golongan dan pertarungan pemikiran dan tipu daya terhadap Islam  [7]

  1. KEDUDUKAN TAFSIR RASULULLAH r

Tafsir Rasulullah  r dapat sampai kepada kita dengan jalan riwayat. Riwayat –riwayat yang sampai kepada kita bervariasi derajatnya. Ada riwayat shohih, hasan,dla’if bahkan maudlu’.

Dengan tercampurnya riwayat shohih dan maudlu’ (palsu) pada tafsir Rasulullah r, maka kedudukan tafsir tersebut terbagi menjadi dua , yaitu maqbul ( diterima ) jika penisbatan tafsir tersebut kepada Rasulullah r itu benar, atau dengan kata lain, tafsir tersebut maqbul jika bersumber dari riwayat yang shohih dan hasan. Dan mardud ( tertolak) jika tafsir tersebut bersumber dari riwayat dla’if ataupun maudlu’.[8]

Dengan demikian, hendaknya berhati-hati ketika  menafsirkan al-Qur’an dengan sunnah Nabi r. Di dasarkan kebenaran riwayatnya, apakah sunnah tersebut valid untuk dapat dijadikan tafsir ayat Al-Qur’an atau tidak. WAllohul Musta’an

  1. KEISTIMEWAAN TAFSIR RASULULLAH r

Tafsir Rasululloh r mempunyai keistimewaan agung yang tidak dimiliki oleh tafsir yang lain yaitu tafsir beliau merupakan wahyu karena yang diucapkan oleh Rasulullah r adalah bukan hasil pemikiran Rasulullah r tetapi semuanya dari wahyu Allah Ta’ala. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 3 dan 4: وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىإِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى”dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.

Demikian uraian singkat tentang sejarah tafsir di zaman Nabi Muhammad r. Wallohu A’lam bishshowab.


[1] Ulama tidak sepakat  dalam standar pembagian tersebut (angka tiga).Ada yang membagi menjadi tiga, lima, bahkan tiga belas. Namun apabila diteliti secara seksama, semuanya akan kembali pada angka tiga tersebut .( Adz-Dzahabi, At-Tafsir wal Mufassirun, jld. 1, hlm. 40)

[2]Al-Bukhari, Shohihul Bukhori, jld. 1, hlm. 56. Bab Dulmun duna dulmin, hds. 31.

[3]Ibnul Qoyyim, I’lamul Muwaqqi’in, jld. 2, hlm.308.

[4]Asy-Syathibi, Al-Muwafiqot, jld. 4, hlm. 192.

[5] Ibnu Katsir, Tafsirulquranil adhim, jld. 1, hlm. 8.

[6]Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, juz 9,bab ijtihad birro’yi, hlm.489, hds. 3119.

[7] Abu Syaibah, Al-Isroiliyat wal Maudluat, hlm. 20.

[8] Abu Syaibah, Al-Isroiliyat wal Maudluat, hlm. 46.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s