KADAR PENAFSIRAN RASULULLAH TERHADAP AL-QUR’AN

Dari dalil- dalil di subbab di atas, telah jelas bagi kita bahwa Rasulullah r adalah mufassir. Namun akan timbul pertanyaan: Apakah Nabi r menafsirkan seluruh al-Qur’an? Ataukah hanya sebagian yang ditafsirkan oleh beliau??. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat.

Kelompok Pertama; berpendapat bahwa Rasululah r menafsirkan seluruh ayat al-Qur’an. Kelompok ini memaparkan beberapa argumen, [1] antara lain:

  • Perintah Allah swt kepada Nabi r untuk menjelaskan wahyu yang diturunkan secara mutlak (Qs.al-Nahl:44). Bayaan atau penjelasan dalam ayat ini, sebagaimana mencakup penjelasan teks al-Qur’an, juga mencakup penjelasan maknanya. Nabi r telah menjelaskan semua teks al-Qur’an, maka secara otomatis beliau juga menjelaskan semua makna al-Qur’an.
  • Perkataan Utsman b.’Affan ra dan Ibnu Mas’ud ra bahwa para sahabat Nabi dalam setiap sepuluh ayat tidak akan menambah hafalan, kecuali setelah mengetahui hukum dan ilmu yang terkandung di dalamnya serta  mengamalkannya
  • Perintah mentadabburi al-Qur’an (Qs.al-Shad:29).

Dan mentadabburi sesuatu  tidak mungkin terjadi tanpa memahami maknanya.

  • Menurut hukum konvensional seseorang yang membaca suatu kitab pasti meminta  penjelasan.

Adapun Kelompok Kedua; berpendapat bahwa Rasulullah r menafsirkan sebagian dari al-Qur’an. Argumen kelompok ini, antara lain:[2]

  • Tidak adanya nash sharih yang berisi perintah agar Nabi r menjelaskan seluruh ayat al-Qur’an.
  • Ayat–ayat muhkamat dalam al-Qur’an sudah jelas dan tidak membutuhkan penjelasan lagi.
  • Firman Allah swt dalam al-Qur’an, Surah al-Nahl:64.
  • Ayat ini menunjukkan bahwa penjelasan Nabi r adalah untuk ayat-ayat yang diperselisihkan oleh para sahabat. Artinya, Nabi r tidak menjelaskan ayat-ayat yang telah disepakati maknanya oleh para sahabat.
  • Do’a Nabi r untuk Abdullah b. Abbas ra, apabila Nabi r telah menerangkan semua makna yang dikandung oleh al-Qur’an, maka pengkhususan do’a tersebut tidak ada faedahnya. Dan jikalau beliau telah menjelaskan seluruh makna al-Qur’an, niscaya semua sahabat sama dalam pengetahuan tentang ta’wil makna tersebut.
  • Pebedaan pendapat para sahabat dan tabi’in seputar arti atau tafsir sebagian ayat al-Qur’an. Apabila penjelasan Rasul r meliputi seluruh al-Qur’an, niscaya perbedaan tersebut tidak akan terjadi.

Kelompok ini kemudian berbeda pendapat: Apakah yang dijelaskan Nabi r tersebut sebagian besar dari keseluruhan al-Qur’an atau hanya sebagian kecil saja??!

Golongan yang mengatakan bahwa penjelasan Nabi r atas makna al-Qur’an hanya sebagian kecil saja, sesungguhnya mendasarkan pendapat mereka kepada: Realita bahwasanya penafsiaran yang ma’tsur dari Rasul r sangat sedikit apabila dibandingkan dengan al-Qur’an secara keseluruhan, sebagaimana perkataan Imam al-Suyuthi. [3]

Adapun golongan yang mengatakan bahwa Nabi r menjelaskan sebagian besar makna al-Qur’an, sesungguhnya mendasarkan pendapatnya kepada:

a) Perkataan Imam al-Zarkasyi, ketika mengomentari perkataan Imam Ahmad bahwasanya yang dimaksud adalah secara umum. Karena banyak riwayat shahih dalam penafsiran tersebut; [4]

b) Keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar bahwa Kitab Tafsir Shahih Bukhori memuat 548 hadits, yang sanadnya muttashil sebanyak 465 hadits dan lainnya mu’allaq.

Setelah memaparkan pendapat para ulama tentang kadar penafsiran Nabi r , penulis ingin memberi beberapa catatan:

Pertama: Penulis bisa mengatakan bahwa ulama sepakat dalam dua hal:

1)  Sesuatu yang sudah jelas maksud dan keberadaannya tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

2)  Tidak semua isi al-Qur’an masuk katagori musykil yang membutuhkan penjelasan. Karena jikalau semuanya musykil, maka para sahabat pasti menanyakan semua makna al-Qur’an kepada Nabi r dan jawaban Nabi r pasti sampai kepada kita karena urgennya hal tersebut. Ini diperkuat oleh realita bahwasanya penafsiran Nabi r yang terekam dalam kitab-kitab hadits yang shahih hanya memuat sebagian al-Qur’an.

Kedua: Perbedaan ulama dalam menjelaskan sedikit banyaknya kadar penafsiran Nabi r (pendapat kedua), menurut hemat penulis tidak akan mempunyai pengaruh yang berarti. ‘Ala kulli haal, semuanya bisa dibuktikan dengan merujuk kitab-kitab hadits shahih yang memuat tema tersebut.

Ketiga:  Buah atau hasil dari pembahasan ini adalah pengetahuan kita bahwasanya sebagian makna al-Qur’an dalam pemahaman dan penafsirannya kembali kepada ijtihad para ulama. Dan ini secara detail dan komprehensif dijelaskan dalam pembahasan Tafsir bi al-Ra’yi.


[1]Ibnu Taimiyyah, At-Tafsirul Kamil, jld. 1, hlm.3.

[2] As-Suyuthi, Al-Itqon fi Ulumil Qur’an, hlm. 571

Adz-Dzahabi, At-Tafsir wal Mufassirun, jld. 1, hlm. 40.

[3] As-Suyuthi, Al-Itqon fi Ulumil Qur’an, hlm. 571.

[4] Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulumil Qur’an, juz 2, hlm. 156.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s