Pembahasan seputar Muhkkam dan Mutasyabih

I. LETAK-LETAK AYAT MUHKAM

Ayat-ayat muhkam terdapat dalam: [1]

a)      Ayat-ayat yang menunjukkan tentang ushulud din (pokok-pokok agama). Seperti iman kepada keesaan Allah, kepada malaikat, para Rasul dll.

Contoh:

–        (( الله لا اله الا هو الحي القيوم … )) ، [2]

–        ((لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّين ))  [3]

 

b)      Ayat-ayat yang menunjukkan tentang akhlaq-akhlaq yang baik dan keutamaan-keutamaan amalan, seperti birrul walidain, penepatan janji dll.

Contoh:

–        (( الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ (20) وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ (21) وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ (22) )) [4]

–        وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا[5]

 

c)      Ayat-ayat yang menerangkan tentang suatu hukum dan di dalamnya ada penyebutan “abada” yang berarti selama-lamanya.

Contoh:

–        و لا تنكحوا أزواجه من بعده أبدا [6]

–      وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا  [7]

 

Sedangkan ayat-ayat nasikh (menghapus dan mengganti suatu hukum), ayat-ayat yang menunjukkan tentang halal-haramnya sesuatu, yang menunjukkan tentang janji Allah dan ancaman-Nya, atau yang menunjukkan tentang amalan-amalan wajib, maka ayat-ayat tersebut termasuk pula dalam ayat-ayat muhkam. [8]

–        (( أحل لكم ليلة الصيام الرفث إلى نسائكم … )) [9] = ayat penghalalan

–         (( حرمت عليكم أمهاتكم و بناتكم … ))  [10]  = ayat pengharaman

–        (( اقتربت الساعة و انشق القمر )) [11] = ayat tentang janji Allah mengenai hari kiamat

–         (( فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة ))[12]= ayat tentang ancaman

II.   LETAK-LETAK AYAT MUTASYABIH [13]

Ayat-ayat mutasyabih terdapat dalam:

1)      Lafal ayat

Contoh:

–        Huruf-huruf muqaththa’ah, yaitu huruf-huruf yang terdapat dalam awal surat yang terdiri dari gabungan huruf hijaiyyah, tidak menjadikan satu kata dan tidak bisa diterjemahkan.

–        الم [14]

–        الر [15]

2)      Mafhum ayat. Maksudnya di sini adalah ayat-ayat yang dapat diketahui maknanya dengan melihat zhahir lafal, tetapi masih tidak diketahui makna sebenarnya.

 

 

 

Contoh:

–        Ayat-ayat yang memberitahukan tentang sifat-sifat Allah.

–        (( يد الله فوق  أيديهم )) [16]

–         (( وَ الَّذِينَ صَبَرُوا  ابْتِغَاءَ وَجْهِ  رَبِّهِمْ ))[17]

–        (( ثم  استوى على  العرش )) …[18]

–         Semua ayat yang memiliki banyak kemungkinan penafsiran.

–        (( أو يعفو الذي بيده عقدة النكاح )) [19]

 

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa apabila ada ayat yang termasuk dalam ayat perintah atau larangan atau hudud dan ahkam, bila didapati tafsirannya lebih dari satu, maka ayat tersebut bisa dimasukkan dalam:

  1. Ayat muhkam dari segi tidak bisa dinasakhnya karena merupakan ayat larangan atau perintah atau hudud dan ahkam.
  2. Ayat mutasaybih dari segi penafsirannya yang lebih dari satu.

 

Wallahu a’lam bish shawwab.

 

 

 

BAB III

Pengamalan Terhadap Ayat Muhkam Dan Mutasyabih

  1. PENGAMALAN AYAT MUHKAM

Wajib diimani atau diamalkan, karena ayat muhkam tidak mengandung adanya nasakhul hukmi (penghapusan atau penggantian hukum). [20]

  1. PENGAMALAN AYAT MUTASYABIH

Wajib berhenti atau tidak menakwilkannya di dunia, meskipun bersamaan dengan itu, ayat mutasyabih harus diyakini kebenaran maksud Allah swt. [21]

 

 

 

BAB IV

Perbedaan Pendapat Para Ulama Tentang Waqaf Dalam Ayat :(( … وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ ))

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya:

“Dia-lah Dzat Yang menurunkan Al-Qur`an atasmu (Nabi Muhammad sas.), yang di dalamnya (Al-Qur`an) ada ayat-ayat yang muhkam (dan ayat-ayat tersebut menjadi) sumber (apa yang ada di dalam) kitab (Al-Qur`an) dan sebagian ayat yang lain mutasyabih.”

Ayat di atas adalah ayat ke tujuh dari surat Ali Imran. Yang digarisbawahi dalam pembahasan ini adalah waqaf dalam ayat: يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ . Ada dua pendapat yang berbeda dalam pemberhentian/waqaf bacaan ayat itu. Dua pendapat tersebut yaitu: [22]

  1. Berhenti pada kata إِلاَّ اللَّهُ  , sehingga susunannya menjadi:

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ .

lalu diteruskan membaca :

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ  يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ

Menurut pendapat ini, huruf wawu (وَ) sebelum kata الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِadalah wawu isti`nafiyyah yaitu wawu yang digunakan untuk memisah hubungan makna antara kalimat sebelum dan sesudah wawu tersebut. Sehingga, maksud dari ayat ini adalah: “Tidak ada yang tahu apa takwil dari ayat mutasyabihat kecuali Allah saja. Dan orang-orang yang teguh dalam ilmu mereka berkata, “Kami beriman kepadanya (ayat mutasyabihat itu dan tidak tahu apa takwilannya).

 

 

 

Ini berarti, وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمmenjadi mubtadak dan يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ menjadi khabar.

Para sahabat yang berpendapat demikian adalah Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Ubayy bin Ka’ab, dll.

  1. Berhenti pada kata وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ, sehingga susunannya menjadi:

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ .

Lalu diteruskan membaca:

يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ .

Menurut pendapat ini, huruf wawu (وَ) sebelum kata الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِadalah wawu ‘athaf, yaitu wawu yang digunakan untuk menyambung makna kata/kalimat sebelum dan sesudah wawu tersebut. Sehingga maksud dari ayat ini menjadi: “Tidak ada yang tahu apa takwil ayat mutasyabihat kecuali Allah dan orang-orang yang teguh dalam ilmu mereka. (Dan keadaan orang-orang yang teguh dalam ilmu mereka itu) mengatakan kami beriman kepadanya (ayat mutasyabihat).

Ini berarti, kalimat يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ menjadi hal (kata/kalimat yang menunjukkan suatu keadaan) bagi orang-orang yang teguh dalam ilmu mereka atau الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ .

Yang berpendapat demikian adalah sekelompok ulama yang  diketuai  oleh Mujahid [23].

  1. Bisa berhenti pada إِلاَّ اللَّهُ , bisa juga berhenti pada الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ , tergantung pada apa yang dimaksudkan dalam kata takwil. Ini disebabkan oleh perbedaan makna kata takwil itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa takwil adalah:

–        Hakikat sesungguhnya dari suatu kata/kalimat.

Bila yang dimaksudkan dari takwil adalah makna sesungguhya, maka waqaf dalam ayat itu adalah sebelum huruf wawu pada وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ , yaitu sampai kata إِلاَّ اللَّهُ (kecuali Allah). Karena hanya Allah-lah Yang Maha Tahu bagaimana hakikat sesungguhnya ayat mutasyabih.

 

Bila Allah mengabarkan kejadian hari kiamat, maka hanya Allah Yang Maha Tahu hakikat sebenarnya kejadian hari kiamat itu. Bila Allah mengabarkan kepada kita tentang sifat-sifat-Nya, maka hanya Dia yang tahu hakikat sebenarnya sifat-sifat-Nya. Jadi, tidak ada yang tahu detail dan kesungguhan wujud ayat mutasyabih kecuali Allah saja. Sedangkan orang-orang yang teguh dalam ilmunya mengatakan bahwa mereka beriman kepada ayat mutasyabih meskipun tidak tahu hakikat wujud ayat tersebut.

–        Tafsir kata/kalimat.

Bila yang dimaksud dari takwil adalah tafsir, maka waqaf dalam ayat itu adalah pada kata الْعِلْمِ dalam kalimat وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ . Ini berarti, yang mengetahui tafsir ayat mutasyabihat adalah Allah dan orang-orang yang teguh dalam ilmu mereka. Karena orang-orang yang teguh dalam ilmu mereka itu tahu dan memahami apa yang dikhithobkan kepada mereka, meskipun mereka tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya esensi/hakikat ayat mutasyabihat tersebut. Mereka hanya mengetahui dan memahami tafsir ayat itu saja, sedangkan hakikatnya, mereka tetap mengatakan “Kami beriman kepadanya”. Beda dengan orang-orang awam yang tidak mengerti tentang tafsir dan tidak bisa memahami apa yang Allah maskudkan dalam ayat-ayat-Nya.

 

Dengan ini, sebagian ulama mengatakan bahwa bila melihat apa makna takwil sebenarnya, maka dapat diketahui antara pendapat pertama dan kedua tidak berbeda, seperti yang telah dipaparkan di pendapat ketiga di atas.

 

 

 

BAB V

Tanggapan Ulama Terhadap Ayat Mutasyabih Sifat

Ayat mutasyabih sifat adalah ayat yang dimusykilkan karena menerangkan tentang keadaan Allah. [24] Contoh-contoh ayat mutasyabih sifat adalah:

–      {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}

–      {وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا}

–      {وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ}

–      {يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ}

 

Ulama berbeda pendapat dalam menanggapi ayat mutasyabih yang berisi tentang keadaan Allah. Perbedaan pendapat tersebut adalah: [25]

i.            Mengimani ayat mutasyabih sifat dan mengembalikan hakikat sebenarnya kepada Allah. Mereka memahasucikan Allah dari sifat-sifat zhahir yang tidak mungkin untuk diartikan atau dibayangkan oleh akal manusia, seperti bersemayam, tangan Allah, datangnya Allah, dll. Semua hal itu adalah keghaiban yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah sendiri dan mereka mengembalikan keghaiban-keghaiban itu kepada-Nya.

Yang berpendapat demikian adalah para sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka. [26] Salah satu yang berpendapat demikian adalah adalah Imam Malik. Saat beliau ditanya tentang bagaimana istiwa`ullah (bersemayamnya Allah), beliau menjawab:

“الاستواء معلوم ، والكيف مجهول ، والسؤال عنه بدعة

Artinya:

“(Tindakan) bersemayam itu dapat dimengerti, tetapi bagaimana (cara Allah bersemayam) tidak diketahui, dan bertanya tentang (semayamnya Allah) adalah perbuatan bid’ah.”

 

ii.            Mengartikan zhahir lafal dengan makna yang sekiranya pantas untuk diberikan kepada Dzat Allah.

 

 

 

Misalnya:

–        وَجَاءَ رَبُّكَ . Yang datang bukan Allah tetapi perintah/perkara-Nya.

–        يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ . Yang dimaksud يَد bukan tangan tetapi kekuatan.

 

Yang berpendapat demikian adalah sekelompok muta`akhkhirin (kontemporer). Alasan mereka berpendapat demikian adalah supaya orang-orang awam mudah untuk memahami ayat-ayat Allah dan sebagai peringatan untuk orang yang masih bodoh. Meskipun mereka juga pada akhirnya menyandarkan maksud sebenarnya dari ayat tersebut. [27]

Menanggapi  pendapat  muta`akhkhirin, Manna’ Al-Qaththan mengatakan bahwa: [28]

“Menakwilkan kata يَد dengan kekuatan adalah takwil yang tercela. Mereka mensucikan Allah dengan sangat sehingga menganggap tidak ada sesuatu bagi Allah yang menurut zhahirnya sama dengan makhluk-Nya, lalu mereka menakwilkan dengan sesuatu yang mereka anggap pantas untuk Allah. Misalnya dalam kata يَد, mereka menganggap tidak mungkin Allah punya tangan seperti hamba-Nya. Lalu mereka menakwilkan يَد dengan kekuatan.

 

Takwil ini adalah takwil yang batil. Karena bila mereka mengatakan bahwa Allah tidak pantas mempunyai tangan karena makhluk-Nya mempunyai tangan kemudian menakwilkannya kepada kekuatan, padahal makhluk-Nya pun mempunyai kekuatan. Mengapa mereka menyandarkannya pula kepada Allah, padahal makhluk-Nya juga punya kekuatan? Kalau misalnya mereka beranggapan bahwa kekuatan itu bisa disandarkan kepada Allah, maka tentu saja tangan pun bisa disandarkan kepada Allah. Kalau misalnya mereka menganggap tangan tidak mungkin disandarkan kepada Allah karena hamba juga mempunyai, maka tentu saja kekuatan pun tidak bisa disandarkan kepada Allah, karena makhluk-Nya juga mempunyai kekuatan.”

 

Pendapat yang paling benar dari dua pendapat tersebut adalah pendapat pertama yaitu menyandarkan makna yang sebenarnya kepada Allah tanpa harus menakwilkannya kepada maksud yang lain dengan tujuan apapun, sebagaimana pendapat para sahabat dan tabi’in.

 

 

Ini dilihat dari:

–        Kalam Allah Ta’ala dalam surat:

Ar-Rum ayat 7:

وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

 

Artinya:

“Dan bagi-Nya (Allah) permisalan yang paling tinggi di langit-langit dan di bumi.”

 

Makna dari ayat tersebut adalah: [29]

المثل الأعلى هو أنه ليس كمثله شيء

Artinya:

Al-Matsalul A’la adalah bahwasanya Allah itu tidak diserupai oleh apapun.

 

Asy-Syura ayat 11:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Artinya:

Apapun juga tidak ada yang seperti Dia.

 

Ali Imran ayat 7 yang mengatakan bahwa orang-orang yang di dalam hatinya ada pelencengan adalah orang yang mengikuti ayat mutasyabih untuk membuat fitnah dan membuat-buat sendiri takwilnya.

–        Hadits Nabi sas. : [30]

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ تَلاَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – هَذِهِ الآيَةَ ( هُوَ الَّذِى أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ) إِلَى قَوْلِهِ ( أُولُو الأَلْبَابِ ) قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – )) فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ ، فَاحْذَرُوهُمْ ((

 

 

 

 

Artinya:

Dari ’Aisyah ra. dia berkata: Rasulullah sas. membaca ayat ini : هُوَ الَّذِى أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ  sampai padaأُولُو الأَلْبَاب , lalu Aisyah berkata Rasulullah sas. bersabda : “Apabila kamu melihat orang yang mengikuti apa-apa yang mutasyabih darinya (Al-Qur`an) maka itulah yang dinamakan Allah. Waspadalah terhadap mereka.”

 

Wallahu A’lam bish-shawwab.

 

 

BAB IV

Hikmah Diturunkannya Ayat Mutasyabih

Allah Ta’ala tidak akan pernah melakukan sesuatu tanpa hikmah. Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam penurunan ayat mutasyabih. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah: [31]

–        Allah Ta’ala bermaksud menguji hamba-Nya. Mana diantara mereka yang mukmin dan mana diantara mereka yang di dalam hatinya ada keraguan. Adapun orang-orang beriman, maka mereka akan mengimani ayat-ayat itu tanpa keraguan sama sekali. Adapun orang-orang munafik, maka mereka akan meragukannya. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada pelencengan, maka mereka akan mengikuti ayat-ayat mutasyabih, menakwilkannya supaya manusia terfitnah.

–        Penurunan ayat mutasyabih adalah untuk menampakkan fadhilahnya para ulama dan menampakkan mana yang lebih afdhal diantara mereka. Para ulama juga bisa membahas lebih dalam tentang ayat-ayat mutasyabih sehingga pahala mereka juga akan lebih besar daripada orang lain.

–        Kalau misalnya semua ayat itu muhkam, maka tidak akan ada perbedaan pendapat, sehingga tidak ada pula pengembangan ilmu, tidak ada yang berijtihad untuk menguatkan pendapatnya. Dengan adanya ayat muhkam dan mutasyabih, orang-orang akan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu untuk menguatkan pendapat-pendapatnya.

–        Ayat-ayat mutasyabih menjadikan seseorang membutuhkan ilmu-ilmu lain seperti bahasa, nahwu, ushul fikih dll. Jadi, ini bisa memancing seseorang untuk memperdalam ilmu-ilmu tersebut.


[1] Ushulut Tafsir wa qawa’iduhu, Abdurrahman Al-‘Ak, hlm. 335-336.

[2] Surat Al-Baqarah: 255.

[3] Surat Al-Baqarah: 177.

[4] Surat Ar-Ra’d: 20-22.

[5] Surat Al-Isra`: 24.

[6] Surat Al-Ahzab: 53.

[7] Surat An-Nur: 4.

[8] Mabahits fi ‘Ulumil Qur`an, hlm. 216.

[9]Surat Al-Baqarah: 178 .

[10] Surat An-Nisa`: 23 .

[11] Surat Al-Qamar: 1 .

[12] Surat Al-Baqarah: 24.

[13] Ushulut Tafsir wa Qawa’iduhu, ‘Abdurrahman Al-‘Ak, hlm. 355.

[14] Surat Al-Baqarah: 1.

[15] Surat Ibrahim: 1.

[16] Surat Al-Fath: 10.

[17] Surat Ar-Ra’d: 22.

[18] Surat Al-A’raf: 54.

[19] Surat Al-Baqarah: 237.

[20] Tafsirun Nushush, Muhammad Adib Shalih, jz. 1, hlm. 175.

[21] Ushulut Tafsir wa Qawa’iduhu, ‘Abdurrahman Al-‘Ak, hlm. 356.

[22] Mabahits fi ‘Ulumil Qur`an, Manna’ Al-Qaththan, hlm. 217.

[23] Mujahid bin Jabr adalah ketua mufassirin dari kalangan tabi’in. Tetapi meski beliau adalah seorang mufassir andalan, Ats-Tasury mengatakan bahwa itu bukan berarti kita boleh menerima semua tafsiran beliau, karena penukilan beliau tentang tafsir juga ada yang didapatkan dari orang yang lemah kezhabitannya. (Mabahits fi ‘Ulumil Qur`an, Manna’ Al-Qaththan, hlm. 384-385)

[24] Manahilul ‘Irfan, Az-Zarqani, jz. 2, hlm. 205.

[25] Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an, Shub-hish Shalih, hlm. 284.

[26] Arsyif Multaqa Ahli Tafsir 2, Abu Muhammad Al-Mishriy, jz. 1, hlm. 2845.

[27] Arsyif Multaqa Ahli Tafsir 2, Abu Muhammad Al-Mishriy, jz. 1, hlm. 2845.

[28] Mabahits fi ‘Ulumil Qur`an, Manna’ Al-Qaththan, hlm. 220.

[29] Fathul Qadir, Asy-Syaukani, jld. 4, hlm. 265.

[30] Shahihul Bukhari, Al-Bukhari, jld. 3, jz. 15, hlm. 195, k. Tafsiril Qur`an, b. (minhu ayatun muhkamatun…).

[31] Ath-Tha’nu fil Qur`anil Karim war Raddu ‘alath Tha’inin, ‘Abdul Muhsin Al-Mathiri, jz. 1, hlm. 11.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s