Tujuan Tadabbur dan Urgensinya

  1. Tujuan Tadabbur

Tujuan diturunkannya Al-Qur’an bukan sebagai bacaan saja, akan tetapi supaya Al-Qur’an ini menjadi pedoman di dalam beramal serta sebagai petunjuk jalan yang harus ditempuh. Hal yang demikian ini hanya didapatkan ketika tadabbur Al-Qur’an dilakukan. Orang yang mentadabburi Al-Qur’an, maka dia akan mendapatkan pendorong dirinya dalam beramal, kemudian diharapkan orang tersebut mendapatkan kedudukan yang tinggi di dunia dan Akherat. [1]

Asy-Syaikh Al-Utsaimin mengatakan bahwa tadabbur merupakan perenungan terhadap lafal-lafal Al-Qur’an dengan maksud mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Ketika hal ini diabaikan, maka hikmah diturunkannya Al-Qu’ran pun akan hilang, lalu Al-Qur’an itu tinggal berwujud lafal tanpa ada bekas sama sekali. Oleh karena itu, tidak mungkin seseorang dapat mengambil nasehat dari Al-Qur’an tanpa memahami maknanya. [2]

  1. Urgensi Tadabbur

Tadabbur merupakan kebutuhan yang penting, karena dengan tadabbur, seseorang akan mendapatkan beberapa manfaat berikut:

Interaksi Hati dengan Al-Qur’an dan Pelaksanaan Perintah-perintah Allah.

Tujuan utama tadabbur Qur’an ialah mewujudkan maksud diturunkannya Al-Qur’an yang berupa pengamalan Al-Qur’an, sehingga seseorang dapat bersegera dalam melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. [3]

Bertambahnya Keimanan Seseorang

.Ibnu Sa’di mengatakan bahwa tadabbur merupakan amalan hati. Oleh karena itu, seseorang yang mentadabburi Al-Qur’an harus mendengarkan dan menghadirkan hatinya, supaya bertambah keimanannya. [4]

Oleh karena itu, seorang mukmin yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an, lalu menjalankan apa yang terkandung padanya, maka hal ini akan menambahkan keimanannya

Memperoleh Sifat Khusyu’

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa seorang pembaca Al-Qur’an hendaklah senantiasa khusyu’, merenungkan apa yang dibaca, serta tunduk kepada Al-Qur’an. Inilah tujuan yang hendak dicapai. [5]

Mendapatkan Hidayah yang Sempurna

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa seorang hamba akan selamat di dunia dan akherat apabila dia senantiasa mentadabburi, memperdalam pengamatan dan mencurahkan seluruh pikiran terhadap makna ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini akan memperlihatkan kepadanya petunjuk-petunjuk tentang kebaikan dan keburukan, serta akan menguatkan pondasi keimanan di dalam hatinya, sehingga hamba tersebut akan mendapatkan kehidupan yang membahagiakan …. [6]

Sebagai Nasehat terhadap Kitabulloh.

Ibnu Rajab mengatakan bahwa Dien itu sebagai nasehat terhadap kitabulloh dengan sangat mencintainya dan mengagungkan derajatnya, karena Al-Qur’an merupakan perkataan Al-Kholiq, serta keinginan yang besar untuk memahaminya. Dia akan berusaha untuk mentadabburi dan memahami Al-Qur’an ketika membacanya, dengan tujuan mencari manakah makna yang dikehendaki oleh pemeliharanya, lalu memahami makna tersebut, kemudian mengamalkannya. Seorang pemberi nasehat harus memahami apa yang hendak disampaikan, begitu pula seorang pemberi nasehat terhadap Al-Qur’an; dia harus memahami apa yang diperintahkan oleh Allah sesuai yang Allah kehendaki, kemudian dia menyebarkan apa yang dia pahami kepada orang lain. Selain itu, dia harus selalu mempelajari Al-Qur’an dengan penuh kecintaan, dan bertingkah laku seperti yang diajarkan oleh Al-Qur’an. [7]

Perasaan Nyaman terhadap Al-Qur’an

Perasaan nyaman ini dirasakan oleh hati dengan sebab bertambahnya keimanan atau longgarnya hati seseorang.[8]

Kenyamanan Al-Qur’an terdapat pada berbagai penggunaannya: ketika membacanya, ketika mendengarkannya, ketika mentadabburi maknanya, dan ketika memahami tujuannya. Orang yang dapat merasakan kenyamanan Al-Qur’an hanyalah orang yang bersungguh-sungguh dalam pencariannya. [9]

Mengetahui yang Halal dan yang Haram

Orang yang mentadabburi Al-Qur’an akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang hukum-hukum fikih yang terkait dengan kehidupan. Di samping itu, dia akan terbiasa dengan gaya bahasa Al-Qur’an dalam menjelaskan perintah dan larangan yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan kebaikan kehidupan manusia. Hal ini akan membantunya untuk menjalankan aturan-aturan agama ini baik secara dhohir maupun batin.[10]

Sebagai Obat untuk Dhohir maupun Batin

Tadabbur dapat menghilangkan segala syubhat dan syahwat yang dapat mengelincirkan manusia ke dalam lautan dosa dan kedholiman. [11]

Asy-Syaikh Ibnul Jauzi mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan pengobatan yang sempurna bagi segala penyakit batin dan dhohir, penyakit dunia dan akherat, akan tetapi tidak semua orang pantas dan cocok dengan pengobatan Al-Qur’an. Al-Qur’an akan menjadi obat bagi seorang hamba  ketika hamba tersebut mau berobat dengan Al-Qur’an secara benar dan dilandasi keimanan, menerima Al-Qur’an secara utuh, mempercayainya dengan pasti, memenuhi segala syaratnya, maka tiada penyakit yang dapat menimpanya. [12]


 

BAB V

PENUTUP

 

Dari data-data yang telah disebutkan di atas, maka dapat diambil kesimpulan:

  1. Tadabbur  adalah mengerahkan seluruh daya pikir manusia untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an .
  2. Tujuan Tadabbur adalah untuk mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah, dan pengamalan apa yang dikehendaki Nya.
  3. Tadabbur itu sangat penting, karena dengan tadabbur akan didapatkan delapan hal berikut:

Interaksi hati dengan Al-Qur’an dan pelaksanaan perintah-perintah Allah

Bertambahnya Keimanan Seseorang

Memperoleh  sifat khusyu’

Mendapatkan Hidayah yang Sempurna

Sebagai Nasehat terhadap Kitabulloh

Perasaan nyaman terhadap Al-Qur’an

Mengetahui yang halal dan yang haram

Sebagai obat untuk dhohir maupun batin

Demikianlah apa yang penulis bisa kemukakan dari tadabbur. Bagi para pelajar yang ingin memperdalam pembahasan ini, penulis menyarankan agar membaca ”Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, Asaalibu Amaliyyah wa Marahilu Manhajiyyah” yang disusun oleh Dr. Hasyim bin Ali Al-Ahdal.


[1] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 17-18.

[2] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 18-19.

[3] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 19.

[4] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 20.

[5] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 20.

[6] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 21.

[7] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 22.

[8] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 22.

[9] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 22-23.

[10] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 23.

[11] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 23.

[12] Al-Ahdal, Ta’limu Tadabburil Qur’anil Karim, hlm. 24.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s