Penyempurnaan-penyempurnaan dalam Penulisan Al-Quran

Perlu diketahui bahwa mushaf yang ditulis pada masa khalifah ‘Utsman bin Affan yang dikenal dengan sebutan mushhaf ‘Utsman itu tidak menggunakan syakal dan titik. Oleh karenanya, tulisan mushhaf itu mengandung kemungkinan untuk dibaca dengan bentuk yang berbeda-beda. Namun demikian, rasa bahasa Arab yang masih kental pada waktu itu mampu menghindarkan orang dari kemungkinan salah dalam membaca. Abu Ahman al-‘Askari menceritakan bahwa mushhaf ‘Utsman tetap dibaca orang banyak dalam bentuk tulisannya seperti yang tersebut di atas selama empat puluh tahun lebih, yakni sampai masa khalifah ‘Abd al-Malik. Pada masa inilah banyak terjadi kerancuan dalam membaca sebagian kata dan huruf al-Qur’an yang ada dalam mushhaf ‘Utsman, sebagai akibat dari pencampuran orang-orang Arab dengan orang-orang non Arab. Pencampuran ini sedikit banyak telah mempengaruhi kemurnian bahasa Arab.

Maka pada masa khalifah ‘Abd al-Malik tahun 65 Hijriyyah sebagian penjabat pemerintah mulai mengkhawatirkan terjadinya perubahan pada teks al-Qur’an jika mushhaf-mushhaf yang ada tetap tidak diberi baris dan titik. Untuk itu mereka berinisiatif untuk membuat tanda-tanda baca yang dapat menolong orang supaya bias membaca mushhaf dengan benar. Dalam kaitan ini disebut-sebut dua nama pejabat sebagai pihak yang berinisiatif, yakni ‘Ubaidillah ibn Ziyad (wafat 67 H) dan Al-Hajjaj ibn al-Tsaqafi (wafat 95 H). Masing-masing dari kedua tokoh ini telah menegaskan kepada orang-orang yang dianggap ahli dan terpercaya bentuk dan tulisan mushhaf.

Perlu diperhatikan bahwa usaha penyempurnaan bentuk tulisan al-Qur’an tidaklah berlangsung sekaligus melainkan berjalan tahap demi tahap sehingga mencapai puncak keindahannya pada akhir abad ketiga Hijriyyah.

Adapun mengenai orang pertama yang meletakkan dasar-dasar pemberian syakal dan pada al-Qur’an, dikalangan para ulama terdahulu terdapat perbedaan pendapat. Dalam hubungan ini ada tiga nama yang disebut-sebut oleh mereka, yakni : Abu al-Aswad al du-ali dan nama ini yang paling popular Yahya ibn Ya’mar dan Nashr ibn ‘Ashim al-Laitisi.

Dr. Shubhi al-Shalih berpendapat bahwa mengingat sulitnya kita untuk memastikan siapakah diantara ketiga tokoh tersebut yang benar-benar merupakan orang pertama dalam hal ini, maka tidak ada halangan bagi kita untuk menyatakan bahwa ketiga-tiganya telah memberikan sahamnya masing-masing dalam memperindah tulisan al-Qur’an dan memudahkan orang untuk membacanya.

Pada masa-masa beriktunya semakin semaraklah usaha-usaha menyempurna-kan dan memperindah tulisan al-Qur’an sehingga pada akhirnya kita warisi mushhaf al-Qur’an seperti yang ada pada hari ini.

Dalam kaitannya dengan percetakan al-Qur’an, Hasbi Ash-Shiddieqy menyebut tahun 1694 Masehi sebagai tahun pertama kali al-Qur’an dicetak, yakni di kota Hamburg (Jerman). Sedangkan Shubhi al-Shalih menyebut tahun 1530 Masehi. Akan tetapi sebelum sempat beredar, penguasa gereja telah memerintahkannya pemusnahannya.

 

 

  1. A.  SYUBHAT YANG BATIL

Ada beberapa keraguan (syubhat) yang sengaja dihembuskan oleh para pengumbar hawa nafsu untuk melemahkan keyakinan kepada Al Quran dan proses pengumpulannya yang telah dilakukan secara teliti. Di sini, akan kami kemukakan beberapa hal yang diras penting, demikian juga tanggapannya.

  1. Menurut penebar syubhat itu, beberapa riwayat menunjukkan bahwa ada beberapa bagian Al Quran yang tidak dituliskan dalam mushaf-mushaf yang ada ditangan kita ini. Beberapa riwayat tersebut yaitu:
    1. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia menegaskan bahwa Rasulullah SAW pernah mendengar seorang membaca Al Quran dimasjid, lalu berkata, “Semoga Allah mengasihinya. Ia telah mengingatkan saya akan ayat anu dan ayat anu dari surat anu.” Dalam riwayat lain dikatakan, “Aku telah menggugurkannya dari ayat ini dan ini.” Juga, “Aku telah dibuat lupa terhadapnya.”[1]

Syubhat ini dapat dijawab, Teringatnya Rasulullah akan satu atau beberapa ayat yang ia lupa atau ia gugurkan karena lupa itu hendaknya tidak menimbulkan keragu-raguan dalam masalah pengumpulan Al Quran, karena riwayat yang menggunakan ungkapan isqath (menggugurkan) itu telah ditafsirkan oleh riwayat lain, kuntu unsituha (aku telah dibuat lupa terhadapnya). Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan isqath itu adalah nasituha, sebagaimana ditunjukkan pula oleh kata-kata adrakani (telah mengingatkan aku). Masalah lupa itu biasa saja terjadi pada Rasulullah dalam hal yang tidak mencederai makna tabligh. Di samping itu, ayat-ayat tersebut telah dihafal oleh Rasulullah, dicatat oleh penulis

  1. Allah berfirman dalam surat AlA’la,

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى (6) إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى (7)

  1. Mereka mengatakan, dalam Al Quran terdapat sesuatu yang bukan Al Quran. Mereka berdalil dengan riwayat yang menyatakan bahwa Ibnu Mas’ud mengingkari Surat An Nas dan Al Falaq termasuk bagian Al Quran.

 

Satu kelompok Syiah yang ekstrim menuduh Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah mengubah Al Quran serta menggugurkan beberapan ayat dan suratnya. Mereka telah mengganti dengan lafad Ummatun hiya azka min ummatin – “Satu umat yang lebih banyak jumlahnya dari umat yang lain” (QS. An Nahl : 62), asalnya adalah, “A’immatun hiya azka min a’immatikum- – “Imam-imam yang lebih suci daripada imam-imam kamu.” Mereka juga menggugurkan ayat-ayat dalam surat Al Ahzab tentang keutamaan ahlul bait, yang panjangnya sama dengan surat Al An’am dan surat tentang kekuasaan (al-wilayah) secara total dari Al Quran.

 

  1. B.  TERTIB AYAT DAN SURAT

Sudah diterangkan bahwa susunan ayat-ayat dalam satu surat itu senantiasa disuruhkan oleh Rasulullah saw, baik pada penulisan maupun pembacaannya.

Dan apa yang beliau tetapkan ini bukan pula dari beliau sendiri, karena setiap bulan Ramadhan beliau tadarrus dengan Malaikat Jibril sehingga sekaligus juga merupakan penjagaan terhadap Al Quran.

Hadits-hadits yang menunjukkan fadhilah surat-surat tertentu atau bahwa Rasul saw membaca surat ini dan itu dalam suatu shalat, itu menunjukkan kepada kita bahwa susunan dan urutan-urutan ayat dalam satu surat itu merupakan ketetapan beliau (walaupun berdasarkan wahyu), bukan dari sahabat sendiri.

Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surat-surat Aal Quran yang ada sekarang:

  1. Ada yang berpendapat bahwa susuna surat-surat itu berdasarkan ketetapan (tauqifi) yang Rasulullah saw membacanya berdasarkan yang dibacakan Malaikat Jibril sebgaimana perintah Allah kepadanya.
  2. Ada dikatakan bahwa urut-urutan surat dalam mushaf adalah berdasarkan ijtihad para sahabat. Pandangan ini didasarkan kepada adanya perselisihan mushaf pendapat para sahabat.

Misalnya :

  • Mushaf Ali disusun berdasarkan urut-urutan turunnya surat: Al ‘alaq, Al Mudatstsir, Al Qolam, Al Muzammil, dst sampai akhir Makiyah dan selanjutnya Madaniyah.
  • Mushaf Ibnu Mas’ud dimulai dengan Al Baqarah(2), An-Nisa’(4) kemudian Ali ‘Imran(3).
  • Mushaf Ubay bin Ka’ab dimulai dengan Al Fatihah, kemudian Al Baqoarah(2), kemudian An-Nisa’(4), kemudian Ali ‘Imran(3).

قُلْتُ لِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ مَا حَمَلَكُمْ أَنْ عَمَدْتُمْ إِلَى بَرَاءَةَ وَهِيَ مِنْ الْمِئِينَ وَإِلَى الْأَنْفَالِ وَهِيَ مِنْ الْمَثَانِي فَجَعَلْتُمُوهُمَا فِي السَّبْعِ الطِّوَالِ وَلَمْ تَكْتُبُوا بَيْنَهُمَا سَطْرَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ عُثْمَانُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا تَنَزَّلُ عَلَيْهِ الْآيَاتُ فَيَدْعُو بَعْضَ مَنْ كَانَ يَكْتُبُ لَهُ وَيَقُولُ لَهُ ضَعْ هَذِهِ الْآيَةَ فِي السُّورَةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا كَذَا وَكَذَا وَتَنْزِلُ عَلَيْهِ الْآيَةُ وَالْآيَتَانِ فَيَقُولُ مِثْلَ ذَلِكَ وَكَانَتْ الْأَنْفَالُ مِنْ أَوَّلِ مَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ بِالْمَدِينَةِ وَكَانَتْ بَرَاءَةُ مِنْ آخِرِ مَا نَزَلَ مِنْ الْقُرْآنِ وَكَانَتْ قِصَّتُهَا شَبِيهَةً بِقِصَّتِهَا فَظَنَنْتُ أَنَّهَا مِنْهَا فَمِنْ هُنَاكَ وَضَعْتُهَا فِي السَّبْعِ الطِّوَالِ وَلَمْ أَكْتُبْ بَيْنَهُمَا سَطْرَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Artinya:

Aku (Ibnu Abbas) berkata kepada Utsman bin Affan: “Apa sebabnya kalian sengaja (taruhkan sedemikian rupa) pada surat Baro’ah –padahal- dia itu tergolong dari Al-Miin dan pada surat Al Anfal –padahal- dia itu dari Al Matsani lalu kalian menjadikan keduanya dalam kelompok As-Sab’uth Thiwal dan kalian tidak saling menuliskan batas بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِdiantara keduanya. Berkata Utsman: “adalah Nabi saw apabila turun atas beliau itu beberapa ayat, maka beliau memanggil sebagian orang yang menjadi penulis beliau dan bersabda kepadanya: “Taruhlah ayat ini disurat yang disebutkan padanya begini dan begitu!”

  1. Kelompok ketiga berpendapat, sebagian surat itu tertibnya bersifat tauqifi dan sebagain lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan urut-urutan sebagian surat pada masa Nabi. Misalnya keterangan yang menunjukkan tertib as-sab’u ath-thiwal, al-hawamim dan al mufashshal pada masa hidup Rasulullah.

Apabila membicarakan ketiga pendapat ini, jelaslah bagi kita bahwa pendapat kedua yang menyatakan tertib surat-surat itu berdasarkan ijtihad para sahabat, tidak bersandar dan berdasar pada suatu dalil. Sebab, ijtihad sebgaian sahabat mengenai tertib mushaf mereka khusus, merupakan ikhtiar mereka sebelum Al Quran dikumpulkan secara tertib. Ketika pada masa Utsman Al Quran dikumpulkan, ditertibkan ayat-ayat dan surat-suratnya pada satu dialek, umatpun sepakat, maka mushaf-mushaf yang ada pada mereka ditinggalkan. Seandainya tertib itu merupakan hasil ijtihad, tentu mereka berpegang pada mushafnya masing-masing.

  1. C.  TANDA YANG MEMPERMUDAH MEMBACA AL QURAN

Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama ditemukan di kota Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (sekarang St.PitersBurg) dan umat islam dilarang untuk melihatnya.

 

Manuskrip Al Qur-an dari Andalusia Abad ke-12

 

Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun 1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf dikembalikan lagi ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian asia tengah). Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo mesir dan Mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul Turki. Umat islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya. Sampai suatu saat ketika umat islam sudah terdapat hampir di semua belahan dunia yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang berbeda-beda sehingga memberikan inspirasi kepada salah seorang sahabat Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu I’rab) yang berupa tanda titik.

Atas persetujuan dari khalifah, akhirnya ia membuat tanda baca tersebut dan membubuhkannya pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad ad-Dualy membuat tanda titik adalah riwayat dari Ali r.a bahwa suatu ketika Abul-Aswad adDualy menjumpai seseorang yang bukan orang arab dan baru masuk islam membaca kasrah pada kata ?Warasuulihi? yang seharusnya dibaca ?Warasuuluhu? yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga bisa merusak makna.

Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan menggunakan warna hijau untuk menandai Hamzah. Jika suatu kata yang ditanwin bersambung dengan kata berikutnya yang berawalan huruf Halq (idzhar) maka ia membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti ?adzabun alim? dan membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti ?ghafurrur rahim?.

Adapun yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan huruf-huruf yang sama karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim (W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafy, salah seorang gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan yang pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang adalah al-Khalil bin Ahmad al-Farahidy (W.170 H) pada abad ke II H.

Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Al Quran khususnya bagi orang selain arab dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad.

Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah ayat dan mencamtumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ?ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Al Quran adalah Tajzi? yaitu tanda pemisah antara satu Juz dengan yang lainnya berupa kata Juz dan diikuti dengan penomorannya (misalnya, al-Juz-utsalisu: untuk juz 3) dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri.

Sebelum ditemukan mesin cetak, Al Quran disalin dan diperbanyak dari mushaf utsmani dengan cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung sampai abad ke16 M. Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang dapat digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Qur?an untuk pertama kali di Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M.

Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin cetak ini semakin mempermudah umat islam memperbanyak mushaf Al Quran. Mushaf Al Quran yang pertama kali dicetak oleh kalangan umat islam sendiri adalah mushaf edisi Malay Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Pitersburg Rusia.

Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di Kazan pada tahun 1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858, seorang Orientalis Jerman , Fluegel, menerbitkan Al Quran yang dilengkapi dengan pedoman yang amat bermanfaat.

Sayangnya, terbitan Al Quran yang dikenal dengan edisi Fluegel ini ternyata mengandung cacat yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak sesuai dengan sistem yang digunakan dalam mushaf standar. Mulai Abad ke-20, pencetakan Al Quran dilakukan umat islam sendiri. Pencetakannya mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya kesalahan cetak.
Cetakan Al Quran yang banyak dipergunakan di dunia islam dewasa ini adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/ 1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Quran dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.


[1] Hadits ini terdapat dalam dua kitab Shahih Al Bukhari-Muslim dengan redaksi yang hampir sama.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s