Penmbukuan di masa Nabi 2

Rasulullah SAW mengangkat para penulis wahyu Al Quran (asisten) dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit. Bila ayat turun, ia memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukkkannya, dimana tempat ayat tersebut dalam surat. Maka penulisan pada lembaran itu membantu penghafal di dalam hati.

Sebagian sahabat juga menulis Al Quran atas inisiatif sendiri pada pelepah kurma, lempengan batu, papan tipis, kilit atau daun kayu, pelana dan potongan tulang belulang binatang.[1] Zaid bin Tsabit berkata, “Kami menyusun Al Quran di hadapan Rasulullah pada kulit binatang.”[2]

Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam penulisan Al Quran. Alat-alat yang dapat digunakan tidak cukup tersedia bagi mereka, selain hanya sarana-sarana tersebut. Tetapi hikmahnya, penulisan Al Quran ini semakin menambah kuat hafalan mereka.

Malaikat Jibril membacakan Al Quran kepada Rasululah pada malam-malam bulan Ramadhan setiap tahunnya. Abdullah bin Abbas berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling pemurah, dan puncak kemurahannya pada bulan Ramadhan ketika beliau ditemui Jibril. Beliau ditemuinya malam-malam bulan Ramadhan. Jibril membacakn Al Quran kepadanya dan ketika beeliau ditemui Jibril, beliau sangat lembut dan pemurah bagai hembusan angin.”[3]

Tulisan-tulisan Al Quran pada masa Nabi saw tidak terkumpul dalam satu mushaf. Biasanya yang ada di tangan sababat misalnya, belum tentu dimiliki oleh yang lain. Menurut para ulama, diantara sahabat  yang menghafal seluruh isi Al Qur-an ketika Rasulullah saw masih hidup adalah: Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Mas’ud.Mereka juga menyebut Zaid bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membaca Al Quran dihadapan Nabi.

Az-Zarkasyi berkata, “Al Quran tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Al Quran turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah .”

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit yang mengatakan, “Rasulullah telah wafat, sedang Al Quran belumdikumpulkan sama sekali.” Maksudnya, ayat-ayat dan surat-surat belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf. Al Khattabi berkata, “Rasulullah tidak mengumpulkan Al Qur-an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat yang menghapus terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir turunnya dengan wafatnya Rasulullah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada Khulafa’ur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya.[4] Hal ini terjadi pertama kali pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar.”[5]


[1] Sarana-sarana penulisan tersebut adalah ‘asab, likhaf, karanif, ghilahz, riqa’, aqtab, dan aktaf

[2] HR. Hakim dalam Al Mustadrak dengan sanad yang memenuhi persyaratan Al Bukhari dan Muslim

[3] Muttafaq Alaih.

[4] إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9) (S. Al Hijr(15): 9)

[5] Al-Itqan 1/57

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s