Pembukuan Al-Quran di Masa Nabi

Adalah Rasulullah SAW, amat menyukai wahyu, ia senantiasa menunggu penurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya, persis seperti dijanjikan Allah,

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ (17)

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan pembacaannya.”Q.S. Al Qiyamah (75) : 17

Oleh sebab itu, ia adalah hafidz (penghafal) Al Quran pertama dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat dalam menghafalnya, sebagai bentuk cinta mereka kepada sumber agama dan ridalah Islam. Al Quran diturunkan selama dua puluh tahun lebih. Proses penurunnya terkadang hanya turun satu ayat dan terkadang turun sampai sepuluh ayat. Setiap kali sebuah ayat turun, dihafal dalam dada dan diletakkan dalam hati, sebab bangsa Arab secara kodrati memang mempunyai daya hafal yang kuat. Sebab pada umumnya mereka buta huruf, sehingga dalam penulisan berita-berita, syair-syair dan silsilah mereka dilakukan dengan catatan di hati mereka.

Dalam kitab Shahih-nya, Al Bukhari telah mengemukakan tentang 7 penghafal Al Quran dengan 3 riwayat. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qil maula Abi Hudzaifah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’.

  1. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Amr bin Ash, ia berkata:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ

Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah Al Quran dari empat orang sahabatku: Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz, dan Ubay bin Ka’ab.”[1]

Keempat orang tersebut dua orang dari Muhajirin, yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Salim; dan dua orang dari Anshar, yaitu Mu’adz dan Ubay.

  1. Diriwayatkan dari Qatadah, ia berkata,

 

 

عَنْقَتَادَةُ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعَةٌ كُلُّهُمْ مِنْ الْأَنْصَارِ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَبُو زَيْدٍ

“Aku bertanya kepada Anas bin Malik, siapakah yang mengumpulkan Al Quran di masa Rasulullah? Dia menjawab, “Empat orang. Semuanya dari kaum Anshar, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.” Aku bertanya lagi, “Abu Zaid itu siapa?” Salah seorang pamanku,” jawabnya.[2]

  1. Diriwayatkan pula melalui Tsabit, dari Anas katanya,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَمَاتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَجْمَعْ الْقُرْآنَ غَيْرُ أَرْبَعَةٍ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَبُو زَيْدٍ قَالَ وَنَحْنُ وَرِثْنَاهُ

“Rasulullah SAW wafat sedang Al Quran belum dihafal kecuali empat orang; Abu Darda’, Muadz bin Jabal, Zaid biN Tsabit dan Abu Zaid.”[3]

Abu Zaid disebutkan dalam hadits-hadits di atas penjelasannya terdapat dalam riwayat yang dinukil oleh Ibnu Hajar dengan isnad yang memenuhi persyaratan Al Bukhari. Menurut Anas, “Abu Zaid penghafal Al Quran itu, namanya Qais bin Sakan. Ia seorang laki-laki dari Bani Adi bin An Najjar dan termasuk salah seorang paman kami. Ia meninggalkan dunia tanpa meninggalkan anak, dan kamilah pewarisnya.”

Ibnu Hajar ketika menuliskan biografi Said bin Ubaid menjelaskan bahwa ia termasuk seorang penghafal Al Quran dan dijuluki dengan Al Qari’ (pembaca Al Quran).[4]

Penyebutan para penghafal yang berjumlah tujuh atau delapan orang diatas, tidak berarti pembatasan, karena beberapa keterangan dalam kitab-kitab sejarah dan sunan menunjukkan bahwa para sahabat berlomba menghafalkan Al Quran dan mereka memerintahkan anak-anak dan istri-istri mereka untuk menghafalkannya. Mereka membacanya dalam shalat di tengah malam, sehingga alunan suara mereka terdengar bagai suara lebah. Rasulullah pun sering melewati rumah-rumah orang Anshar, lalu berhenti untuk mendengarkan alunan suara mereka yang sedang membaca Al Quran.

Menurut Abu Musa Al-Asy’ari, bahwasannya Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Seandainya engkau melihatku tadi malam, di waktu aku mendengarkan engkau membaca Al Quran? Sungguh engkau telah diberi satu seruling Nabi Dawud.”[5]

Diriwayatkan Abdullah bin Amr. ia berkata, “Aku telah menghafal Al Quran dan aku mengkhatamkannya pada setiap malam. Hal ini sampai kepada Nabi, maka sabdanya, “Khatamkanlah dalam masa satu bulan saja.”[6]

Abu Musa Al Asy’ari berkata, Rsulullah SAW, “Sesungguhnya aku mengenal kelembutan alunan suara keluarga besar Asy’ari di waktu malam ketika mereka berada dalam rumah. Aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara bacaan Al Qurannya di waktu malam, sekalipun aku belum pernah melihat mereka masuk di rumah itu waktu siang.”[7]

Di samping ghirah para sahabat untuk mempelajari dan menghafal Al Quran, Rasulullah pun mendorong mereka ke arah itu dan memilih orang tertentu untuk mengajarkan Al Quran kepada mereka. Ubadah bin Ash Shamit Berkata, “Apabila ada seorang yang hijrah (masuk Islam) Nabi menyarnkan kepada salah seorang diantara kami untuk mengajari Al Quran. Di Masjid Rasulullah sering terdengar gemuruh suara orang membaca Al Quran, sehingga Rasulullah memerintahkan mereka agar merendahkan suara supaya tidak saling mengganggu.”[8]

Pembatasan tujuh orang sebagaimana disebutkan Al Bukhari dengan tiga riwayat diatas, maksudnya mereka itulah hafal seluruh isi Al Qur-an luar kepala dan selalu merujukkan hafalannya di hadapan Nabi saw, isnad-isnadnya sampai kepada kita. Sedangkan para penghafal Al Qur-an lainnya –yang berjumlah banyak- tidak memenuhi hal-hal tersebut, terutama karena para sahabat telah tersebar di berbagai wilayah dan sebagian mereka menghafal dari yang lain. Cukulah sebgai bukti tentang hal ini bahwa sahabat yang terbunuh di Bi’ru Ma’unah semuanya disebut qurra’. Menurut Al Qurthubi, “Ada tujuh puluh qori’ yang terbunuh pada perang Yamamah. Pada masa Nabi, dalam pertempuran di Bi’ru Ma’unah, terbunuh juga sebanyak itu.”

Inilah pemahaman dan takwil para ulama terhadap hadits-hadits shahih yang menunjukkan pembatasan jumlah para penghafal Al Quran yaitu hanya tujuh orang seperti yang telah dikemukakan di atas.

Dari keterangan-keterangan diatas ini jelaslah bagi kita bahwa para penghafal Al Quran di masa Rasulullah amat banyak jumlahnya, dan  bahwa  berpegang pada hafalan dalam penukilan sesuatu di masa itu termasuk ciri khas umat ini. Ibnu Jazari[9], sebagai seorang Syaikh para peghafal pada masanya menyebutkan, “Penukilan Al Quran dengan berpegang pada hafalan-bukan pada tulisan dan kitab- merupakan salah satu jenis keistimewaan yang diberikan Allah kepada umat ini.”


[1] HR. Bukhari no. 4615

[2] HR. Bukhari no. 4619

[3] HR. Bukhari no. 4620

[4] Al Ishabah, 2/28

[5] HR. Bukhari. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, “Aku menjawab; Demi Allah, wahai Rasulullah, Seandainya aku tahu engkau mendengarkan bacaanku, tentu aku akan alunkan lebih bagus lagi untukmu.”

[6] HR. Nasa’i dengan isnad shahih.

[7] HR. Bukhari dan Muslim.

[8] Munahil Al ‘Irfan / Az Zarqani, 1/234

[9] Ia adalah Muhammad bin Muhammad, terkenal dengan nama Ibnu Jazari, penulis kitab An-Nasyr fi Al Qira’at Al ‘Asyr; wafat 833 H.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s