Bentuk Kemukjizatan Al-Quran bag 1

  1. Bentuk Kemukjizatan Al-Quran [1]

Berikut ini pendapat-pendapat ulama tentang bentuk kemukjizatan Al-Qur’an:

  1. Mu’jizat Al-Quran itu berupa dipalingkannya orang-orang Arab dari keinginan untuk mengalahkannya meskipun sebenarnya mereka mampu dan ini merupakan suatu hal yang luar biasa. Inilah pendapat Abu Ishaq Ibrahim An-Nadlam dan pengikutnya. Adapun Al-Murtadli berpendapat bahwa mu’jizat Al-Quran itu berupa dihilangkannya ilmu-ilmu yang diperlukan untuk dapat menandingi Al-Quran.

Pendapat ini dianggap salah karena kalau demikian yang menjadi mukjizat itu bukan Al-Quran itu sendiri tetapi takdir/ketetapan Allah untuk berbuat demikian.

Al-Qadli Abu Bakar Al-Baqilani mengatakan bahwa indikator kesalahan pendapat ini  adalah kalau yang menghalangi kalahnya Al-Quran ini adalah takdir Allah berarti Al-Quran itu mungkin ditandingi. Dengan demikian, kalamullah/Al-Quran itu tidak mempunyai kelebihan apapun atas teks-teks yang lainnya. Pendapat yang salah ini juga telah ditolak oleh Al-Quran Al-Karim itu sendiri dalam firmanNya: ((”Katakanlah, wahai Muhammad, sungguh kalaupun manusia dan jin itu berkumpul/bersatu untuk membuat suatu yang semisal dengan Al-Quran, niscaya tidaklah mereka itu dapat melakukannya meskipun sebagian mereka saling menguatkan/bantu membantu dengan sebagian yang lain.”)) QS Al-Isra: 88. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka itu tidak dapat mengalahkannya meskipun mereka itu benar-benar melakukannya.

Mukjizat Al-Quran itu berupa balaghah (gaya bahasanya) yang telah mencapai tingkat yang tak tertandingi. Pendapat ini adalah pendapat para ahli bahasa Arab yang telah kenyang dengan berbagai bentuk rangkaian kata yang penuh hikmah dan ilmu Bayan yang mengagumkan.

  1. Mukjizat Al-Quran itu berupa kandungan ilmu Badie yang asing dan menyelisihi umumnya ucapan orang Arab berupa fawashil dan maqathi’.

Al-Quran itu bukan nadlam, sajak, khutbah, surat, cerita, ataupun prosa. Ia merupakan kata-kata yang dipilih dan dirangkai dengan sedemikian indah. Ia memiliki keindahan bahasa nadham, kelugasan prosa, keserasian bahasa sajak, kekuatan bahasa khithobah, dan kelebihan macam-macam bahasa manusia tersebut. Ia merupakan paduan dari semua itu yang dirangkai dan diatur dengan indah. [2] ia memiliki metode tersendiri yang unik yang mengungguli kelebihan masing-masing  jenis bahasa manusia di atas. [3]


[1] Manna’ Al-Qaththan, Mabahitsu fi ulumil Quran, hlm. 261-263.

[2] As-Suyuthi, Al-Itqan, hlm. 373, Maktabah Syamilah, CD.

[3] As-Suyuthi, Al-Itqan, hlm. 375, Maktabah Syamilah, CD.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s