krisis ekonomi

Malam telah larut pekat. Setengah malam yang pertama hampir berlalu. Namun, masih ada seorang lelaki yang berjalan di lorong-lorong jalan kota Madinah. Ia memperhatikan setiap rumah yang ia lalui. Ia berharap jika ada suara orang yang kelaparan, ia dapat mendengarnya. Benar saja, di ujung yang paling jauh, ia mendengar suara tangisan anak-anak yang merengek-rengek minta makanan. Ibunya berusaha menghiburnya dengan sabar dan ia sedang duduk menunggui periuk yang berada di atas tungku di depannya. Namun, tangisan itu tak kunjung berhenti dan makanan tak kunjung masak. Dengan penasaran, lelaki tersebut mengucapkan salam dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Perempuan itu pun menceritakan bahwa anaknya kelaparan dan ia tidak memiliki makanan. Ia terpaksa berusaha mengalihkan perhatian anaknya dengan berpura-pura memasak makanan padahal yang ia masak hanyalah batu. Perempuan itu pun mengadukan mengapa amirul mukminin Umar yang terkenal keadilannya itu pun tidak mengetahui bahwa ada rakyatnya yang kelaparan. Kemudian, lelaki itu pun kembali ke tengah kota. Ia menuju ke baitul mal, gudang pemerintahan. Ia ambil dua karung gandum dan ia pun memikulnya di atas punggungnya. Melihat hal itu, bertanyalah sang penjaga baitul mal tersebut. “Ada apakah, wahai amirul mukminin?” Lelaki itu pun menjawab: Celakalah Umar jika ia membiarkan rakyatnya kelaparan di tengah malam. Sang penjaga berkata: Wahai amirul mukiminin, biarkan saya membantu anda. Lelaki itu menjawab: Engkau tidak akan dapat memikul tanggunganku di hadapan Allah nanti. Sang penjaga itu pun nekat memanggul salah satu karung tadi dan pergi bersama lelaki itu ke tempat ibu yang kelaparan tadi. Bahkan, mereka berdua pun membantu memasakkannya hingga matang. Ibu itu pun berterima kasih dan bertanya-tanya siapakah lelaki berhati malaikat yang telah menolongnya itu. Ia pun bertanya kepada lelaki yang kelihatan seperti pembantunya tersebut. “Siapakah lelaki tersebut?” Ia menjawab: Ia adalah Amirul mukminin Umar bin Khaththab. Masih banyak lagi cerita tentang Umar bin Khaththab yang terjun langsung memberi makan kepada rakyatnya di tengah malam. Ada pula cerita, Umar bin Khaththab yang enggan untuk makan roti-roti yang kering, keras, dan kasar. Ia mengatakan bahwa ia adalah orang yang terakhir kali kenyang di antara seluruh muslimin yang dipimpinnya. Padahal ketika itu, negara muslimin adalah negara terkaya di masa itu. Begitu pula, Umar bin Abdul Aziz yang menolak menggunakan lampu milik negara ketika membahas masalah keluarganya. Bahkan, kita temui Mullah Muhammad Umar ketika berkuasa di Afghanistan, ketika ia menyambut para tamu-tamu negara, ia menghidangkan jamuan yang layak untuk mereka. Namun, ia sendiri tidak ikut makan dari jamuan tersebut. Ia makan hidangan yang khusus disediakan untuknya yaitu roti yang keras dan kasar.

Begitulah, para kepala negara yang memimpin negaranya dengan syariat Islam dan teladan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka akan sadar bahwa seluruh kematian, bahkan kematian hewan zakat sekalipun, akan ditanyakan oleh Allah kepadanya nanti di akhirat. Dan jika itu terjadi karena keteledorannya maka ia akan menanggung hukumannya di akhirat. Memang sedikit, kepala negara Islam, yang menjalankan syariat sekalipun yang seperti para Umar ini. Namun, syariat Islam masih mampu memberikan ketentraman di tengah masyarakat dengan hukum-hukum ciptaan Allah ini. Sebab, pencipta hukum ini adalah Dzat yang paling paham dengan manusia.

Berbeda dengan negara-negara yang tidak diatur dengan syariat Islam, meskipun islam menjadi agama resminya, para penguasanya bersenang-senang di atas penderitaan rakyat. Semestinya, ketika harga minyak dunia melambung, mereka tahu diri untuk menjadi orang yang terakhir kali kenyang setelah rakyatnya kenyang. Apa sulitnya bagi wakil rakyat untuk menyisihkan 10 persen gaji mereka kepada rakyat yang telah memilihnya dan mengamanahkan kepadanya. begitulah, para wakil rakyat yang dipilih dengan cara demokrasi dan memerintah dengan hukum demokrasi. Suka atau tidak, itulah malapetaka hukum warisan kolonial, hukum bikinan manusia dan menolak syariat Islam. Maha benar Allah dan RasulNya.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, nasihat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s