Tragedi Kehidupan Anak Adam

Setiap orang di dunia ini pasti merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah yang paling benar. Bahkan, orang liberal pun – manusia yang paling munafik, ia mengatakan kebenaran adalah relatif namun ia menganggap orang yang tidak sependapat dengannya adalah orang yang salah – beranggapan bahwa pluralisme yang ia yakinilah yang paling benar itu. Namun, tidak penting orang itu merasa benar. Yang penting adalah ukuran/parameter apakah yang ia gunakan atau ia jadikan dasar untuk mengatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah yang benar. Parameter tersebut hanya ada dua, yaitu: wahyu dan hawa nafsu.

Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai parameter bagi kebenaran adalah orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, sebab kebenaran itu datangnya dari tuhan, bukan yang lainnya. Akal manusia hanya bisa merasakan kebenaran, tidak menentukan. Terkadang perasaan itu tumpul karena maksiat dan bertambah tajam dengan semakin dekatnya seorang hamba itu kepada Allah, satu-satunya tuhan. Setiap anak Adam dilahirkan di atas fitrah yang suci. Fitrah adalah karunia yang akan menuntun setiap anak Adam untuk mengenal Allah dan dinNya Al-Islam. Ia dibekali perangkat-perangkat yang dapat ia gunakan untuk mengenal Allah dan Al-Islam. Namun dalam perjalanan hidupnya nanti, ia akan diwarnai oleh dua penghalang besar, yaitu hawa nafsu yang ada dalam dirinya dan lingkungannya.

Anak Adam dilahirkan sebagai makhluk yang paling mulia namun ia dapat terjatuh ke dalam derajat yang paling rendah dari tingkatan kemulian makhluk Allah ini. Manusia dibekali oleh Allah akal dan hawa nafsu sedangkan malaikat dibekali Allah akal tanpa hawa nafsu dan hewan dibekali hawa nafsu tanpa akal. Jika akal seseorang dikalahkan oleh hawa nafsunya maka sungguh ia telah menjadi makhluk yang lebih rendah dari binatang. Namun jika akalnya mampu mengalahkan hawa nafsunya maka ia menjadi lebih mulia dari malaikat.

Adapun lingkungan yang mempengaruhinya dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu: lingkungan rumah, lingkungan pendidikan, dan lingkungan sosial. Namun, sekarang lingkungan manakah yang mengenalkannya kepada Allah dan Al-Islam. Sekarang, propaganda-propaganda setan telah dengan leluasa memasuki rumah setiap muslim melalui televisi. Sebab, ia memang dibiarkan leluasa. Setiap hari anak-anak dibiasakan untuk melihat kemungkaran sehingga mati mata hati dan perasaannya serta semangatnya untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan berjihad, berjuang dan berperang. Jika setiap rumah seperti itu, maka lingkungannya pun sama payahnya sama jeleknya. Hancur binasa dan percumalah kebenaran yang diajarkan di sekolahnya. Sama halnya, jika di rumah ia dididik oleh kedua orang tuanya, yang notabenenya dalah kiayi, ustadz, muballigh, namun di sekolah yang diajarkan adalah cinta dan kepedulian kepada dunia saja. Karir, pekerjaan, kesenangan, dan cita-cita duniawi. Lebih-lebih lagi ideologi syirik menjadi materi wajib. Sejarah sesat dijejalkan. Madzhab yang sesat pun tak ketinggalan. Atau ia dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang jahat dan berikhthilath/bergaul dengan bebas di antara laki-laki dan perempuan. Hancurlah pendidikan yang ditanamkan oleh orang tuanya tersebut.

Sungguh malang nian nasib anak Adam. Setiap hari jutaan anak manusia telah disembelih dan dikubur hidup-hidup fitrahnya. Sesungguhnya Al-Islam ini diturunkan untuk menyelamatkan bayi-bayi yang malang tersebut. Tegakkan syariat Islam agar hawa nafsu ditundukkan dan lingkungan manusia ini terselamatkan.

Manusia terlalu takut jika syariat Islam ditegakkan maka akan banyak orang dirajam dilempari batu hingga mati. Banyak tangan akan terpotong. Padahal, berapa banyak orang yang dipotong tangan dan dirajam di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sangat sedikit, namun itu mampu memberikan ketenangan dan keamanan serta menciptakan lingkungan yang islam selama berabad-abad. Islam memaafkan perbuatan yang telah lewat. Tiada hukum yang berlaku surut, selain hukum dzalim terorisme pesanan Amerika.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, nasihat dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s