GERAKAN INGKAR SUNNAH

INKAR SUNNAH : Suatu nama atau aliran atau suatu faham keagamaan dalam masyarakat Islam yang menolak atau mengingkari Sunnah untuk dijadikan sebagai sumber dasar Syari’at Islam atau ‘ orang-orang yang menolak hadis sebagai Hujjah dan sumber hukum kedua ajaran Islam yang wajib dita’ati dan diamalkan. (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, jilid 2 hal.225).

Gerakan inkar sunnah pernah muncul di abad ke 2 Hijiriah, yaitu di masa Imam Asy-Syafii. Kemudian menghilang hingga kemunculannya kembali di akhir abd ke 13 Hijriiah. Belakangan ini, gerakan ini muncul kembali di India, kemudian Mesir, kemudian Indonesia dan Malaysia.

Di abad ke 2 hijriah itu, ada sekelompok orang pergi menemui Imam Asy-Syafii dan berdiskusi dengan beliau tentang kehujjahan hadits. Imam Asy-Syafii mencatat jawaban-jawaban beliau atas pertanyaan-pertanyaan mereka itu dalam sebuah bab yang berjudul Cerita tentang orang-orang yang menolak hadits secara total. Imam Asy-Syafii tidak menyebutkan nama orang-orang tersebut namun beliau menyebutkan bahwa mereka berasal dari Bashrah, yang nota benenya merupakan markas ahli filsafat/mu’tazilah. Barangkali mereka adalah dari golongan tersebut.

Adapun di akhir abad ke-13 hingga sekarang, bermunculanlah gerakan inkar sunnah modern. Di antaranya, gerakan Quraniyyun di India yang salah satu tokohnya adalah Chiragh Ali, Maulevi A, Jakralevi, dan Ghulam A. Parvez. Kemudian di Mesir muncul Taufiq Shidqi, Abu Rayyah, Ahmad Amin dan Rasyad Khalifah. Di indonesia, muncullah Ir. Ircham Sutarto, Abdurrahman, dan Dalimi Lubis. Dan Malaysia, muncul Kassim Ahmad.

Salah satu tokohnya adalah Mahmud Abu Rayyah mengatakan: “Buku induk hadits tidak bisa dijadikan pedoman dalam beragama untuk umum sebagaimana Al-Quran, karena ia merupakan hasil ijtihad para ulama belakangan … .” [1] Alasannya, sunnah bukanlah wahyu, bukan hujjah, dan bukan syariat dan Al-Quran itu sudah sempurna, baik kandungannya, penjelasannya, dan pemeliharaannya. Al-Quran juga sudah terperinci dan lengkap. Kebenaran sunnah juga hanya zhanny, tidak qath’i. Bahkan, Rasulullah pernah melarang penulisan hadits. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa Sunah akan terjaga dari infiltrasi hingga hari Kiamat. Padahal pencatatan/pembukuan hadits terjadi setelah masa 40-50 tahun setelah Hijrah. Orang cukup menguasai bahasa Arab saja untuk bisa memahami Al-Quran. Bahkan, mereka menuduh bahwa haditslah penyebab mundurnya Islam ini.

Semua tuduhan mereka itu salah. Sunnah adalah wahyu dan Al-Quranlah yang mengatakannya: “Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari keinginannya, melainkan merupakan wahyu yang diwahyukan. S. An-Najm 3-4. Jadi, ia adalah hujjah dan syariat. Sunnah memang tidak ada jaminan dari pemalsuan. Namun, orang yang mempelajari sunnah pasti tahu bahwa tidak semua sunnah itu dapat diterima dan dijadikan hujjah. Ada sunnah yang diriwayatkan oleh banyak orang terpercaya dari zaman para sahabat hingga zaman pembukuannya, yang ditransferkan kepada murid-murid yang sekelas dengan gurunya dalam hal kwalitas keilmuan dan amanahnya. Sunnah yang semacam ini bukan lagi zhanni, namun sudah sampai derajat qathi. Isinya pun juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang sangat detil dan terperinci. Intinya, sunnah-sunnah yang dapat dijadikan hujjah adalah sunnah-sunnah yang qath’I atau dzanni namun sesuai dengan isi Al-Quran, sehingga mengangkat derajatnya ke qath’i.

Alasan mereka bahwa Al-Quran sudah terperinci pun salah. Sebab, dalam Al-Quran tidak ada syariat shalat jenazah dan shalat ied. Tidak ada syariat menguburkan jenazah. Tidak ada syahadat. Tidak ada shalat lima waktu. Kalau begitu, syariat Islam ini akan banyak yang gugur dan para pengikut inkar sunnah tidak usah dikuburkan dan dishalatkan.

Memang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang kebanyakan sahabat menulis hadits beliau. Namun, ada beberapa sahabat yang beliau izinkan pula untuk menuliskannya. Di antaranya adalah Abdullah bin Amr. Tujuan pelarangan itu adalah agar para sahabat menghafalkan Al-Quran dulu hingga selesai, bukan karena hadits tidak boleh ditulis dan dijadikan hujah.

Tuduhan terakhir mereka justru berbalik kepada mereka. Ridla Allah ada pada ridla Rasul. Ketika umat ini telah banyak meninggalkan Al-Quran dan Sunnah, mereka telah jatuh ke dalam kebinasaan. Namun, di zaman ketika sunnah dimuliakan dan bermunculan para ahli hadits, umat Islam ini telah menjadi raja-raja di muka bumi. Fakta telah berbicara. Allahu Akbar


[1] Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ala ‘Ala Sunnah Al-Muhammadiyyah, Kairo, Darul Ma’arif, cet ke-6, hlm. 19-22, 250-252, dan 380-381.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, nasihat dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s