Keteladanan dan Hukuman

Anak-anak merupakan pribadi yang berkembang. Mereka selalu memiliki rasa ingin tahu yang membuat diri mereka berkembang. Orang tua haruslah menjaga dan mengarahkan rasa ingin tahu tersebut agar tidak merugikan mereka, membuat mereka melakukan kesalahan, lebih-lebih melakukan kemaksiatan kepada Allah.

Jika anak melakukan kesalahan, hendaklah kita menghadapinya dengan bijaksana. Sering kali orang tua menyikapi kesalahan anak dengan kemarahan. Mestinya kita berlatih dan melatih anak untuk memaafkan, tanpa  menjauhkan mereka dari tanggung jawab. Ketika mereka melanggar hak manusia, maka ajari mereka untuk menggantinya tanpa perlu menjatuhkan hukuman yang menyiksa.

Hukuman diperlukan untuk membuat anak jera dan tidak mengulanginya lagi, tanpa harus ada unsur menyakiti. Esensi hukuman ini, yaitu membuat jera, harus diusahakan untuk dicapai. Tidak boleh gagal. Adapun menyakiti itu tetaplah merupakan kejahatan. Takutlah kepada Allah.

Dalam dunia pesantren, seringkali para guru menyikapi pelanggaran-pelanggaran anak dengan memperketat peraturan, sehingga membuat anak tiada berkutik. Menurunnya tingkat pelanggaran anak sebanding dengan menurunnya bahkan lenyapnya kreatifitas  mereka, membuat mereka menjadi orang-orang yang pasif.

Lebih dari hukuman, orang tua dan pendidik harus ingat bahwa anak-anak merupakan pribadi yang berkembang dan mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat. Oleh karena itu, keteladanan untuk mereka merupakan hal yang wajib ada dalam diri para pendidik. Jika kita menginginkan anak dan murid kita menjadi orang yang banyak shalat sunnah, kita harus melakukan shalat sunnah, kalau perlu dilakukan di hadapan mereka.  Jangan kita membikin peraturan saja. Bila kita ingin mereka terjauh dari kemaksiatan, sibukkanlah mereka dengan kebaikan. Persempit kemungkinan dari melakukannya. Ketika kita ingin agar mereka hafal Al-Quran, kita semestinya juga berlomba dengan mereka untuk menghafalkan Al-Quran. Bukan hanya dengan iming-iming hadiah. Keteladanan akan memberikan hasil yang jauh lebih memuaskan dari hadiah.

Hukuman dan ketegasan tetaplah diperlukan. Hadiah dan motivasi pun jangan ditinggalkan. Namun, jangan lupa bahwa keteladanan tetaplah yang terbaik. Jika anda ingin mengubah dunia, mulailah dari dirimu.

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) Pengajar Kajian Hadits di Islamic Center Sragen (2014) contact 08172838421
Pos ini dipublikasikan di Ilmu Din, nasihat dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s