Dasar-Dasar Interaksi dengan Al-Quran

Sesungguhnya Al-qur’an al-karim mempunyai kedudukan yang sangat penting di kehidupan ini.Alquran adalah obat hati,petunjuk dan rahmat bagi semesta alam. Alquran adalah kitab yang kekal yang penuh keajaiban di setiap ayatnya yang suci. Dia adalah kitab yang penuh petunjuk dan cahaya yang menerangi sampai hari kiamat.
Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dunia maka tiada lain kita harus kembali kepada Al quran serta assunnah yang berfungsi sebagai penjelas Alquran. Alloh ta’ala mengatakan “Dan Kami turunkan kepadamu peringatan supaya kamu jelaskan kepada manusia tentang apa yang diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir”(an-nahl 44)
Tidak mungkin orang yang tidak paham alquran akan bisa menyampaikan alquran. Oleh karena itu sangat penting bagi kita utuk mempelajari dasar-dasar berinteraksi bersama Alquran.
Tiada gading yang tak retak, oleh karena itu penulis berharap saran kritik dari pembaca yang budiman.

Dasar-dasar berinteraksi bersama Alquran sebagai berikut;
Dasar 1 : mengenal nilai alquran
Dasar 2 : mengenal tujuan alquran
Dasar 3 : mengenal Alloh dan mendekatkan diri kepadaNya
Dasar 4: membaca dengan benar
Dasar 5 : menghafal
Dasar 6 : memahami
Dasar 7 : mengamalkan
Dasar 8 : mendakwahkan

Mengenal nilai alquran
Dasar pertama untuk berinteraksi dengan alquran adalah mengenal nilainya.Jika seseorang mengenal nilai dari sesuatu tentu akan bersungguh sungguh dalam menggapainya. Alquran adalah hidayah bagi orang yang bertakwa karena orang yang bertakwalah yang dapat menerima petunjuk itu,Alloh mengatakan

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ” [البقرة :2].

Itulah kitab yang tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang –orang yang bertaqwa(albaqoroh:2)
Alquran membenarkan kitab-kitab terdahulu,Alloh mengatakan

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ” [المائدة : 48].

Dan Kami turunkan kepadamu kitab dengan benar yang membenarkan kitab sebelumnya (Al maidah: 48)
Alquran mempunyai nama yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi yaitu adzikri al hakim,Alloh mengatakan

“ذَلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ” [آل عمران : 58]،

Yang demikian itu Kami membacakan ayat-ayat kepadamu dan peringatan yang bijaksana (ali imron :58)
Alquran adalan furqon,Alloh mengatakan,

“شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ”[البقرة : 185]

Bulan romadhon yang diturunkan padanya alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dari petunjuk dan sebagai pembeda(albaqarah:185)
Dan alquran adalah cahaya,Alloh mengatakan

“قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ” [المائدة : 15].

Sungguh telah datang kepada kalian dari Alloh cahaya dan kitab yang jelas(almaidah:15)
Membaca Alquran adalah cahaya bagi hati dan cahaya bagi rumah.

، فعن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب” . سنن الترمذي

Dari Ibnu abbas berkata,rosululloh saw bersabda ”sesungguhnya orang yang tidak ada dalam rongganya sesuatu dari alquran seperti rumah yang roboh” H.R Tirmidzi

وعن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “لا تجعلوا بيوتكم مقابر إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة”. رواه مسلم .

Dari abu huroiroh rosululloh saw bersabda jangan kalian jadikan rumah kalian kuburan,sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat al baqarah. H.R.Muslim
Alquran adalah kitab samawi yang dijaga dari perubahan.Alloh mengatakan
: “إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ” [الحجر : 9].

Sesungguhnya Kami menurunkan peringatan dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya (alhijr :9)

Mengenal tujuan alquran alkarim
Dasar yang kedua adalah mengenal tujuan alquran alkarim.Alquran sendiri telah menjelaskan tujuannya sendiri yakni untuk memberi petunjuk.Alloh mengatakan

“يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيراً مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ * يَهْدِي بِهِ اللّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنِ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ” [المائدة : 15 – 16].

Wahai ahli kitab sungguh telah datang rosul kami yang menjelaskan kepada kalian kebanyakan dari apa yang kalian sembunyikan dari kitab dan Alloh memaafkan dari yang banyak.Telah datang kepada kalian dari Alloh cahaya dan kitab yang jelas.Alloh menunjuki dengannya orang yang mengikuti keridhoannya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus (almaidah 15-16)
Dan Alquran mengeluarkan seseorang dari kegelapan menuju cahaya,Alloh mengatakan

“الَر كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ” [إبراهيم : 1].

Alif lam ra.sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka ke jalan yang maha gagah lagi maha terpuji(ibrahim:1)
Alquran untuk kebahagiaan manusia,Alloh mengatakan

“مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى” [طه : 2].

Tidaklah kami turunkan alquran kepamu untuk memberatkan(thaha:2)
Mengenal Alloh ta’ala dan mendekat kepadaNya
Demikian itu karena Alquran adalah perkataan Alloh,dan tidaklah kita mamahami perkataan Alloh kecuali kita mendekat kepadaNya.Sebagai perantara untuk mengenal Alloh ada 2 jalan yaitu memahami ayat-ayat kauniyah di alam semesta dan ayat yang tertulis di kitab yakni alquran alkarim.
Maka jalan yang pertama ketika kita memperhatikan alam semesta,muncul di benak kita siapa yang menciptakan,tentu Alloh lah yang menciptakan.Alloh telah mengatakan
“قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ” [يونس : 101].

Katakanlah,lihatlah apa yang ada di langit dan bumi dan tidaklah mencukupi ayat dan peringatan itu darikaum yang tidak beriman(yunus:101)
Dan ini adalah kitab Alloh yang tertulis.Keduanya mencukupi kita untuk mengenal Alloh.Mendekatkan diri kepada Alloh memudahkan seorang mukmin untuk memahami kitabnya.
Membaca dengan benar
Membaca dengan benar merupakan dasar yang penting dalam berinteraksi bersama alquran.Perkara ini merupakan kewajiban bagi kita dalam berinteraksi dengan alquran.Alloh mengatakan,
: “إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ* وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ” [النمل : 91 – 92].

Sesungguhnya tiada lain aku diperintah untuk menyembah Tuhan negeri ini yang mengharamkannya dan baginya segala sesuatu dan aku diperintahkan untuk menjadi dari kalangan orang islam.dan supaya aku membacakan alquran (annaml :91-92 )
Selayaknya kita membaca alquran setiap hari satu juz sehingga tiap bulan khatam sekali,lebih banyak dari itu lebih baik sebagai mana Alloh mengatakan
“يتلون أيات الله آناء الليل”
Mereka membaca ayat-ayat Alloh diwaktu malam
Dan dari adab membaca alquran adalah tartil dalam membaca alquran.
عن أنس أنه سئل عن قراءة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال كانت مدّا ثم قرأ: بسم الله الرحمن الرحيم, يمد الله و يمد الرحمن و يمد الرحيم .

Diriwayatkan imam Bukhory dari anas bahwa dia ditanya tentang bacaan rosululloh saw,maka dia berkata bacaannya panjang,kemudian anas membaca bismillahirrahmanirrahim,memanjangkan Alloh memanjangkan arrahman dan memanjangkan arrahim
Membaca alquran dengan bertadabbur dan memahami.Ini adalah tujuan yang dimaksud dan dicari.Dengan hal inilah dada terasa longgar dan hati bercahaya.Caranya adalah dengan menyibukkan hati pada tiap lafaznya.Dan disukai menagis atau menangis-nangiskan bagi orang yang tidak mampu,sedih seta khusyuk.Disunnahkan memperbagus bacaan dan menghiasinya,jika tidak mampu memperbagus bacaan maka memperbagus bacaan semampunya asal tidak boleh melampai batas.
Menghafal
Menghafal adalah bagian penting setelah membaca alquran dengan benar.Inilah bentuk penjagaan Alloh terhadap alquran, Alloh mengatakan

“إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ” [الحجر : 9].

Sesungguhnya Kami yang menurunkan Alquran dan Kami jugalah yang menjaganya(alhijr:9)

Banyak hadits Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh.” (HR. Tirmidzi)

Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur’an (Keutamaan menghafal Qur’an) yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih bergairah dalam menghafal Al Qur’an.
Fadhail Dunia
1. Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah. Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an, “Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari).
Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)
2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Nabi saw mendahulukan pemakamannya. “Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari).
Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini, surat ini, dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i). Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)
4. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad).
5. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah. “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)
Fadhail Akhirat
1. Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafalnya. Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”” (HR. Muslim
2. Hifzhul Qur’an akan meninggikan derajat manusia di surga. Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).
Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.
3. Para penghafal Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat. “Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun’alaih)
4. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan). Mereka akan dipanggil, “Dimana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)
5. Kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan. “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)
6. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur’an. Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah.
Allah telah menjanjikan pahala untuk setiap huruf Al Qur’an yang dibaca. “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi)

Memahami Al Qur’an
Orang yang pandai membaca Al Qur’an tapi tidak memahaminya seperti burung beo yang pandai berkicau tapi tidak faham apa yang diucapkan oleh mulutnya sendiri.
Memahami Al Qur’an dapat dilakukan dengan mengikuti pengajian tafsir Al Qur’an ataupun membaca kitab-kitab tafsir yang sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namum demikian cara ideal untuk memahami Al Qur’an adalah dengan cara mempelajari bahasa Arab. Bahkan banyak ulama yang mewajibkan belajar bahasa Arab.
Berdasarkan kaidah usul fiqh, “Man lam yutimmul wajib illa bihi fahuwa wajib”.”Sesuatu yang tanpanya kewajiban menjadi tidak sempurna, maka sesuatu itu menjadi wajib”.
Karena pemahaman Al Qur’an tidak akan sempurna tanpa bahasa Arab, maka hukum belajar bahasa Arab menjadi wajib.

Mengamalkan Al Qur’an
Membaca dan memahami Al Qur’an saja tidaklah bermanfaat tanpa mengamalkannya. Namanya Bairuha’. Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah. Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah karena Rasulullah saw yang mulia pernah memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk. Bairuha’ adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya. Tapi tiba-tiba kebun yang begitu prestisius, berlokasi strategis dan bernilai sejarah tinggi itu menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut:
” Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu yang kalian cintai “ (Q.S. Ali Imran: 92)
Demi mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian dengan serta merta menyerahkan Bairuha’ beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha’ dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih membutuhkan.
Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang berjumlah sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma!
Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya. Kisah di atas memberikan gambaran bagaimana patuhnya para shahabat terhadap perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Al Qur’an. Mereka mendengar dan mereka taat (sami’na wa atha’na). Inilah salah satu ciri orang beriman. [Al Baqarah: 285] Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”
Sebaliknya salah satu ciri dari orang kafir adalah ketika mendengar Al Qur’an lalu mereka ingkar (sami’na wa ashaina) [Al Baqarah: 93] dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak mentaati”. dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).

Respon yang luar biasa terhadap Al Qur’an yang telah ditunjukkan oleh para shahabat merupakan bukti kebenaran iman. Kerena, iman tidak hanya terucap di lisan, tapi juga diyakini oleh hati dan diamalkan dalam perbuatan.

Sungguh Nabi SAW telah memberikan teladan, dimana beliau digambarkan oleh istrinya Aisyah r.a sebagai, “Kaana khuluquhul Qur’an” (Al Qur’an yang berjalan).

Mendakwahkan Al Qur’an
Jika seseorang telah pandai membaca Al Qur’an, mampu memahaminya, mengamalkannya, dan menghafalkannya, maka insya Allah Allah dia telah menjadi orang yang shalih secara pribadi. Namun keshalehan pribadi tentu saja belum cukup, harus diiringi dengan keshalihan secara sosial. Karena itu, menjadi wajib baginya untuk mendakwahkan Al Qur’an.

Karena, pada dasarnya hukum berdakwah adalah wajib bagi setiap mukmin [An Nahl: 125]

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk

Selain itu, sesunggunya orang yang hanya ingin shalih untuk dirinya sendiri maka dia termasuk orang yang merugi

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (Al Ashr: 2-3)

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) contact 08172838421
Tulisan ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s