Tafsir di Masa Sahabat Nabi

Sejarah tafsir telah dimulai sejak masa Rasulullah s.a.w., kemudian pada masa shahabat dan tabiin. Sesuai dengan judul, penulis akan membahas –secara singkat- sejarah tafsir di masa shahabat saja.

Mengapa para shahabat tidak menemui kesulitan memahami ayat-ayat Al-Quran sedangkan Rasulullah s.a.w. tidak menjelaskan semua ayat-ayat dalam Al-Quran –bahkan hanya sebagian kecil saja? Ibnu Khaldun dalam mukadimah kitabnya menuliskan bahwa Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, bahasa mereka sendiri. Mereka –para shahabat- mengenal betul bentuk kata, susunan kata, tata bahasa, dan sastra Arab. Secara global mereka memahami ayat-ayat tersebut seperti yang ditulis.[1]  Hadits-hadits berikut menunjukkan bagaimana mereka memahami Al-Quran.

  1. 1.           أخرج أبو عبيد في الفضائل عن أنس: أن عمر بن الخطاب قرأ على المنبر: {وَفَاكِهَةً وَأَبّاً}[2], فقال: هذه الفاكهة قد عرفناها، فما الأب؟ ثم رجع إلى نفسه فقال: إن هذا لهو التكلف يا عمر”[3]
  2. 2.           وأخرج أبو عبيد من طريق مجاهد عن ابن عباس قال: كنت لا أدري ما: {فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالاَرْضِ} حتى أتاني أعرابيان يتخاصمان في بئر، فقال أحدهما: أنا فطرتها، يقول: أنا ابتدأتها”.[4]

Ibnu Qutaibah mengatakan bahwa diantara mereka tidak sama kemampuannya memahami Al-Quran –tentang lafadh yang gharib dan mutasyabihat-, tetapi sebagian dari mereka memahami lebih dari yang lain. [5]

Setelah wafatnya Rasulullah s.a.w., secara otomatis penafsiran al-quran berpindah kepada para shahabat. Hal ini menunjukkan bahwa mereka merupakan generasi pertama mufasirin. Para shahabat menggunakan Al-Quran, hadits-hadits Rasulullah s.a.w., tata bahasa arab dan balaghah, ijtihaad, dan ahli kitab sebagai rujukan penafsiran mereka. Banyak diantara para shahabat yang diakui keilmuannya dalam menafsirkan Al-Quran. Imam As-Suyuti mengatakan: “Ada sepuluh sahabat yang terkenal atas pengetahuan mereka dalam menafsirkan Al-Quran. Mereka adalah khulafaur rashidin, Abdullah ibnu Mas’ud, Abdullah bin Abbas[6], Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’arii, dan Abdullah bin Zubair”. Diantara khulafaur rashidin, Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah yang paling banyak menafsirkan Al-Quran, yang lainnya sedikit sekali karena masa hidup yang lebih singkat –khususnya Abu Bakar-, disibukkan oleh urusan pemerintahan, dan masih banyak shahabat yang hidup saat itu. Selain sepuluh sahabat di atas, beberapa shahabat juga dikenal karena kemampuannya menafsirkan Al-Quran misalnya ummul mukminin Aisyah r.a., meskipun kemampuan mereka di bawah sepuluh shahabat yang disebutkan imam As-Suyuti.


[1] Mana Qathan, Mabahits fii Ulumil Quran, penerbit Mansyuratul Asril Hadits, 1990, hal.334

[2] عبس: 31

[3] “الإتقان” جـ2 ص113

[4] “الإتقان” جـ2 ص113

[5] “التفسير والمفسرون” جـ1 ص36

[6] Diantara sepuluh shahabat yang disebutkan oleh imam As-Suyuthi, Abdullah bin Abas merupakan shahabat yang paling luas dan dalam ilmunya dalam penafsiran Al-Quran. Hal ini tidak lepas dari doa Rasulullah s.a.w. kepada ibnu Abbas:

قال: “اللَّهم فَقِّه فى الدين وعَلِّمه التأويل

Ibnu Abbas memang mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah s.a.w. Sejak kecil dia sudah menemani Rasulullah s.a.w., dia sepupu Rasulullah s.a.w., ummu mukminin Maimunah r.a. adalah bibi ibnu Abbas.

 

About these ads

Tentang dulhayyi

Pengajar Tata Buku dan Akuntansi (2013-2014) contact 08172838421
Tulisan ini dipublikasikan di Ilmu Din, Tafsir dan tag , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s